KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Tekanan ekonomi tidak hanya terasa pada skala usaha besar. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner ikut menghadapi situasi yang semakin menantang ketika masyarakat mulai mengerem pengeluaran dan pada saat bersamaan harga bahan baku terus bergerak naik.
Di Balikpapan, pemilik Cake SalaKilo Riswahyuni atau akrab disapa Yuni mengatakan perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu dampak yang paling terasa dalam aktivitas usahanya. Masyarakat kini semakin selektif menentukan pengeluaran, termasuk ketika harus memutuskan membeli produk makanan dan kue.
“Minat orang untuk berbelanja itu sebisa mungkin dikecilkan, jadi mengecilkan pengeluaran. Karena orang-orang lebih memilah-milah mana untuk belanja yang konsumtif atau yang lain-lainnya,” ungkap Yuni.
Situasi tersebut menciptakan tantangan ganda bagi pelaku UMKM kuliner. Di satu sisi konsumen menginginkan harga yang tetap terjangkau, sementara di sisi lain biaya produksi justru mengalami peningkatan.
Baca Juga: Bukan Lagi Menunggu Pembeli, UMKM Fashion Kaltim Harus Jemput Pasar
Menurut Yuni, pasar saat ini menuntut UMKM untuk mampu menawarkan produk dengan harga murah. Persoalannya, sejumlah komponen produksi seperti minyak goreng, gula, hingga plastik kemasan mengalami kenaikan harga yang cepat.
“Kalau kita ini sebagai UMKM, kondisi pasar menuntut kita menjual dengan harga yang murah. Mereka mencarinya dengan harga yang murah. Sementara harga sangat fluktuatif,” katanya.
Kenaikan harga bahan baku menjadi persoalan yang tidak mudah diatasi karena biaya tersebut berhubungan langsung dengan struktur produksi. Yuni memperkirakan kenaikan sejumlah bahan baku rata-rata berada pada kisaran 10 hingga 20 persen. “Rata-rata sih di 20 persen ya harga bahan baku naik,” ujarnya.
Kenaikan tersebut tidak terjadi hanya sesekali. Dalam pengalamannya menjalankan usaha kuliner, perubahan harga bahan baku dapat kembali terjadi dalam waktu sekitar tiga bulan. “Dalam waktu tiga bulan sekali itu pasti sudah ada kenaikan bahan baku,” timpal Yuni.
Baca Juga: Jangan Cuma Jual Kain, Trik Desainer Kaltim Bikin Produk Lokal Dilirik Pasar Luas
Bagi UMKM, kondisi tersebut menjadi dilema. Kenaikan biaya produksi secara teoritis dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Namun, keputusan tersebut memiliki risiko karena konsumen sedang berada dalam fase mengurangi pengeluaran.
Jika harga produk dinaikkan terlalu sering, konsumen memiliki banyak pilihan untuk berpindah ke produk sejenis dengan harga lebih rendah. Persaingan antarprodusen makanan membuat ruang gerak UMKM semakin sempit.
Yuni menggambarkan persaingan tersebut dengan sederhana. Ketika terdapat dua produk makanan sejenis, konsumen cenderung akan membandingkan harga sebelum membeli. “Misalnya ini ada sama-sama keripik pisang. Mending saya cari keripik pisang lain dengan harga yang lebih murah,” katanya.
Karena itu, stabilitas harga bahan baku menjadi salah satu tantangan terbesar bagi bisnis kuliner. Bukan hanya soal besarnya biaya yang dikeluarkan, tetapi juga mengenai kemampuan pelaku usaha mempertahankan harga jual di tengah tuntutan pasar.
Tekanan daya beli masyarakat akhirnya turut memengaruhi lalu lintas konsumen di gerai. Yuni mengakui kunjungan ke toko maupun wisatawan yang datang mengalami penurunan.
Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, kemampuan UMKM menjaga keseimbangan antara biaya produksi, harga jual, kualitas, dan daya beli konsumen menjadi semakin penting. Bagi sektor kuliner, tantangan tersebut sekaligus menjadi ujian ketahanan usaha.
Baca Juga: Pernah Dianggap Gila, Agus Bei Buktikan dengan Raih Kalpataru Dua Kali
"Pelaku UMKM saat ini dituntut bukan hanya mampu membuat produk yang disukai pasar, tetapi juga membaca perubahan perilaku konsumen dan mengatur strategi bisnis ketika biaya produksi bergerak lebih cepat daripada kemampuan pasar menyerap kenaikan harga" ucapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo