Aktivitas Wisata Anjlok, Agen Perjalanan Kaltim Bertahan Berkat Magnet IKN

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 19:58 WIB
LESU: Aktivitas bisnis travel Kaltim mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. IKN menjadi salah satu pasar yang masih menopang sektor perjalanan wisata. Dok/KP
LESU: Aktivitas bisnis travel Kaltim mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir. IKN menjadi salah satu pasar yang masih menopang sektor perjalanan wisata. Dok/KP

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Bisnis perjalanan wisata di Kaltim tengah menghadapi tekanan. Aktivitas anggota Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Kaltim merosot dalam dua tahun terakhir. Dari sekitar 86 kegiatan pada 2024, jumlahnya turun menjadi sekitar 53 kegiatan pada 2025 dan hanya 7–8 kegiatan hingga tahun ini.

Ketua DPD ASITA Kaltim, Didi Sutriadi, menyebut penurunan tersebut turut dipengaruhi efisiensi anggaran yang berdampak terhadap aktivitas perjalanan. Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi keterbatasan biaya untuk melakukan promosi secara langsung. “Kalau untuk sementara kita melakukannya di media sosial yang cukup ramah di kantong,” kata Didi.

Menurutnya, promosi melalui media sosial memang lebih murah. Namun, untuk kembali mendatangkan wisatawan dalam jumlah lebih besar, pemerintah perlu membuka ruang promosi yang mempertemukan langsung pelaku usaha perjalanan.

Baca Juga: Peringati Hari Pelanggan Nasional, Astra Motor Kaltim 1 Geber Rolling City dan Promo Menarik

Salah satunya melalui kegiatan table top atau pertemuan bisnis antarpelaku usaha pariwisata. Dalam forum tersebut, travel agent Kaltim dapat bertemu dengan agen perjalanan dari daerah lain yang memiliki pasar wisata potensial. “Paling enggak kita bisa table top keluar. Jadi B2B, bisnis to bisnis,” ujarnya.

Didi mencontohkan Bali sebagai salah satu pasar yang dapat digarap. Menurut dia, wisatawan dari Bali memiliki ketertarikan terhadap perjalanan budaya di Kaltim, termasuk kunjungan ke Tenggarong.

Potensi pasar tersebut dinilai perlu diperluas agar bisnis travel Kaltim tidak hanya bergantung pada kunjungan wisatawan yang datang secara insidental.

Di tengah kondisi tersebut, Ibu Kota Nusantara (IKN) justru menjadi salah satu penopang yang masih mampu menggerakkan bisnis perjalanan di Kaltim.

Baca Juga: Tradisi Bakar Lahan Padi Gunung di Berau Disetop Sementara demi Cegah Karhutla

Didi mengatakan, kunjungan kerja ke Samarinda, Balikpapan maupun daerah lain di Kaltim kerap diselipkan dengan agenda kunjungan ke IKN.

“Karena IKN itu sendiri biasanya jadi teman-teman itu untuk kunjungan kerja dan minatnya pasti akan diselipkan ke IKN,” jelasnya.

Selain IKN, wisata bahari seperti Derawan dan sekitarnya juga masih diminati. Namun, karakter pariwisata Kaltim yang banyak mengandalkan wisata alam dan budaya membuat pasar wisata di daerah ini cenderung bersifat special interest.

Berbeda dengan destinasi di Pulau Jawa yang banyak menawarkan wisata buatan, wisata Kaltim lebih banyak mengandalkan alam dan budaya. Kondisi tersebut membuat pasar domestiknya tidak seluas daerah tujuan wisata massal. “Kalau saya lihat di Kaltim ini memang wisatanya adalah minat khusus,” ungkap Didi.

Menurutnya, wisatawan domestik yang datang umumnya berasal dari kelompok tertentu, seperti peneliti atau peserta kunjungan kerja. Sementara wisatawan mancanegara, terutama dari Eropa, lebih banyak tertarik dengan wisata alam.

Karena itu, Didi berharap penguatan promosi melalui B2B dapat menjadi salah satu cara membuka kembali pasar wisata Kaltim. Travel agent dari daerah yang selama ini menjadi sumber wisatawan perlu dipertemukan dengan pelaku usaha lokal agar terbentuk paket perjalanan yang lebih menarik.

Baca Juga: Kisah Pasukan Pemadam PT TAP Grup Jaga Kelay dari Kemarau Ekstrem, Padamkan Api Hingga Tengah Malam

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan dan menggerakkan sektor usaha lain seperti hotel, transportasi, restoran hingga jasa pemandu wisata. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Bisnis Travel Kaltim asita kaltim wisata ikn Ekonomi Kaltim pariwisata Kaltim