KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ibu Kota Nusantara (IKN) tak hanya menjadi tujuan kunjungan kerja pemerintahan. Bagi pelaku usaha perjalanan wisata, kawasan ibu kota baru tersebut kini menjadi salah satu magnet yang masih mampu menjaga pergerakan bisnis travel di Bumi Etam.
Ketua DPD Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Kaltim, Didi Sutriadi, menyebut IKN saat ini menjadi destinasi yang paling banyak diminati wisatawan yang datang melalui agen perjalanan.
Selain IKN, wisata bahari seperti Derawan dan sekitarnya juga masih menjadi pilihan. Namun, menurut Didi, IKN memiliki keunggulan karena sering menjadi bagian dari agenda kunjungan kerja. “IKN,” kata Didi saat ditanya mengenai sektor yang masih mampu menopang bisnis travel Kaltim.
Menurutnya, seseorang yang datang ke Kaltim untuk kunjungan kerja biasanya tidak hanya menjalankan agenda kedinasan. Kunjungan ke IKN kerap dimasukkan sebagai bagian dari perjalanan.
Baca Juga: Pertamina Patra Niaga RU V Balikpapan Perkuat Kesiapsiagaan melalui Emergency Drill
Misalnya, ketika rombongan datang untuk kunjungan kerja ke Samarinda atau Balikpapan, agenda tersebut dapat diselipkan dengan kunjungan ke IKN.
Pola tersebut memberikan efek berantai bagi pelaku usaha pariwisata. Mulai dari travel agent, hotel, transportasi hingga pemandu wisata ikut mendapatkan manfaat dari pergerakan wisatawan.
Didi mengatakan, rombongan yang dibawa travel agent biasanya menginap minimal tiga hari dua malam.
Salah satu gambaran tingginya permintaan akomodasi terjadi saat rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di IKN. Didi menyebut rombongan pemain angklung dari Jakarta yang terlibat dalam kegiatan tersebut menginap selama empat hari. “Dan cukup banyak untuk tempat menginap di sana itu habis,” ujarnya.
Baca Juga: Pemuda Didakwa Bawa Kabur Perempuan 16 Tahun dari Balikpapan ke Parepare Tanpa Izin Orangtua
Harga penginapan di sekitar IKN, lanjut dia, juga berada pada kisaran yang cukup tinggi ketika permintaan meningkat. Tarifnya disebut hampir mencapai Rp2 juta per malam.
Menurut Didi, kondisi tersebut menunjukkan bahwa geliat IKN dapat menjadi peluang bagi sektor pariwisata Kaltim. Tantangannya adalah bagaimana membuat kunjungan tersebut tidak berhenti pada perjalanan singkat.
“Kalau bisa, kita berusaha supaya wisatawan lebih lama berada di Kaltim, supaya mereka bisa lebih banyak belanja, bisa menginap lebih lama dan mendapatkan experience yang jauh lebih luar biasa,” pungkasnya. (*)
NASYA RAHAYA
Editor : Nugroho Pandu Cahyo