KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ketika wisatawan domestik cenderung mencari destinasi yang viral dan wisata buatan, wisatawan mancanegara justru memiliki ketertarikan berbeda terhadap keindahan alam Bumi Etam.
Kawasan hutan, gua, budaya hingga jalur trekking menjadi daya tarik yang membuat wisatawan asing rela menempuh perjalanan panjang. Ketua DPD Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) Kaltim, Didi Sutriadi, menyebut wisatawan asing yang ke Kaltim umumnya berasal dari Eropa.
Salah satu kawasan yang diminati adalah Merabu dan kawasan Sangkulirang-Mangkalihat. Destinasi tersebut masuk dalam kategori wisata minat khusus karena membutuhkan kesiapan fisik dan waktu perjalanan yang lebih panjang. “Rata-rata turis dari Eropa sebenarnya,” kata Didi.
Baca Juga: Jangan Cuma Lewat, Pelaku Wisata Kaltim Ingin Turis Betah Menginap dan Belanja
Menurutnya, wisatawan Eropa memiliki ketertarikan terhadap wisata alam dan aktivitas trekking. Karakter tersebut membuat destinasi seperti Merabu memiliki pasar tersendiri.
Berbeda dengan wisatawan domestik yang umumnya mencari destinasi populer atau viral, wisatawan asing tersebut justru tertarik mengeksplorasi kawasan alam.
Didi menyebut perjalanan menuju destinasi tersebut tidak bisa dilakukan secara singkat. Wisatawan bisa mengawali perjalanan dari Balikpapan atau Samarinda, kemudian menuju sejumlah daerah sebelum melanjutkan perjalanan ke kawasan Merabu.
Di sepanjang perjalanan, wisatawan juga dapat mengunjungi sejumlah destinasi budaya maupun alam lainnya. Karena itu, lama perjalanan dapat mencapai satu minggu. Sementara paket yang umum ditawarkan travel agent berada di kisaran lima hari.
Baca Juga: Magnet IKN Dongkrak Bisnis Travel Kaltim, Tarif Hotel Tembus Rp 2 Juta
“Perjalanan bisa seminggu. Tapi kalau standarnya, biasanya teman-teman bawa bisa sampai lima hari,” ujarnya.
Didi menilai karakter wisata minat khusus sebenarnya menjadi keunggulan Kaltim. Persoalannya, pasar tersebut tidak sebesar wisata massal. “Untuk Kaltim wisatanya lebih ke minat khusus ya,” katanya.
Karena itu, pengembangan destinasi seperti kawasan Sangkulirang-Mangkalihat tidak cukup hanya mengandalkan popularitas. Pengelolaan destinasi, akses, pemandu hingga paket perjalanan perlu disiapkan agar pasar wisatawan khusus dapat berkembang. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo