Tak Melulu Batu Bara dan Sawit, Pisang Bisa Jadi Komoditas Andalan Kaltim

Nasya Rahaya • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 19:55 WIB
ANDALAN BARU: Pisang menjadi salah satu komoditas buah dengan volume terbesar di Kaltim. Pada 2024, BPS mencatat produksinya mencapai 194.651,52 ton.
ANDALAN BARU: Pisang menjadi salah satu komoditas buah dengan volume terbesar di Kaltim. Pada 2024, BPS mencatat produksinya mencapai 194.651,52 ton.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kaltim tak harus selamanya mengandalkan batu bara dan kelapa sawit sebagai penopang ekonomi. Dari sektor pertanian, komoditas pisang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi salah satu andalan baru, terutama karena tanaman tersebut telah berkembang baik di sejumlah wilayah Kaltim.

Gagasan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Faperta Unmul) Prof Bernatal Saragih. Menurutnya, Kaltim perlu mulai mencari keunggulan kompetitif dari sektor pertanian dengan melihat komoditas yang sesuai dengan karakter alam daerah. “Sekarang apa yang menjadi keunggulan kompetitif Kaltim? Menurut saya itu yang perlu difokuskan,” kata Bernatal, Senin (7/9).

Ia menilai, Kaltim tidak harus memaksakan diri mengejar produktivitas tanaman pangan yang membutuhkan input besar, terutama jika kondisi alamnya berbeda dengan daerah sentra pertanian seperti Pulau Jawa.

Baca Juga: PT YWA Realisasikan 1.900 Kebun Plasma di Berau, Petani Mitra Raup Puluhan Juta Rupiah

Bernatal menjelaskan, karakter tanah Kaltim memiliki tantangan tersendiri. Lapisan tanah atas atau topsoil relatif tipis dan tingkat keasaman tanah juga menjadi persoalan dalam pengembangan sejumlah tanaman. Kondisi itu membuat pola pertanian Kaltim tidak bisa begitu saja disamakan dengan daerah lain.

“Kalau kita paksakan padi ini oke-oke saja. Tapi mungkin diversifikasi. Itu perlu input yang sangat mahal,” ujarnya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan produksi padi memang mengalami peningkatan. Pada 2025, luas panen padi mencapai 66,52 ribu hektare dengan produksi 270,87 ribu ton gabah kering giling (GKG).

Produksi tersebut naik 8,50 persen dibandingkan 2024 yang mencapai 249,64 ribu ton GKG. Namun, menurut Bernatal, peningkatan produksi padi tidak berarti Kaltim harus menjadikan komoditas tersebut sebagai satu-satunya tumpuan pertanian. Diversifikasi diperlukan agar pengembangan sektor pertanian mengikuti keunggulan daerah.

Ia membandingkan produktivitas padi Kaltim dengan daerah sentra di Jawa. Menurutnya, produktivitas di Kaltim masih berada di kisaran 3–4 ton per hektare, sedangkan di Jawa dapat mencapai sekitar 7 ton per hektare. Dari kondisi tersebut, Bernatal melihat tanaman yang sudah terbukti mampu tumbuh baik di Kaltim justru layak mendapat perhatian lebih besar. Salah satunya pisang.

Baca Juga: Turis Eropa Buru Wisata Alam Kaltim, Bisa Tinggal hingga Sepekan

Pisang bukan komoditas yang sama sekali baru bagi Kaltim. Dokumen Rencana Strategis Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim 2024–2026 bahkan menempatkan pisang sebagai salah satu program unggulan pengembangan kawasan hortikultura.

Pengembangan tersebut diarahkan di empat daerah, yakni Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Paser dan Berau. Target luas panen pisang di kawasan tersebut ditingkatkan dari 150 hektare pada 2024 menjadi 350 hektare pada 2026. Sementara target produksinya naik dari 9.750 ton menjadi 21 ribu ton.

Secara produksi, pisang juga menjadi salah satu komoditas buah dengan volume terbesar di Kaltim. BPS mencatat produksi pisang pada 2024 mencapai 194.651,52 ton. Angka tersebut menjadi produksi buah terbesar dibandingkan sejumlah komoditas buah lainnya yang dicatat dalam tabel tersebut.

Kutai Timur menjadi daerah dengan produksi pisang terbesar. Produksinya mencapai 87.735,45 ton pada 2024. Disusul Paser sebesar 70.423,50 ton dan Kutai Kartanegara 11.391,36 ton. Besarnya produksi tersebut menunjukkan bahwa pisang bukan sekadar komoditas alternatif. Ada basis produksi yang sudah terbentuk dan tinggal diperkuat dari sisi kawasan, produktivitas, kualitas hingga akses pasar.

Bernatal menyebut beberapa jenis pisang yang berkembang di Kaltim, di antaranya pisang kepok dan pisang muli. Pisang kepok bahkan disebut telah berkembang sebagai varietas lokal Kaltim. “Pisang kepok dikembangkan di Kaltim ini menjadi varietas yang dianggap sudah menjadi varietas lokal,” ujarnya.

Menurut Bernatal, pengembangan pisang juga tidak harus menghilangkan komoditas pertanian lainnya. Prinsip diversifikasi tetap diperlukan, tetapi pemerintah harus menentukan komoditas yang menjadi fokus berdasarkan keunggulan masing-masing wilayah. “Pertanian itu diversifikasi menjadi penting. Satu sama lain saling support. Tapi ada focusing-nya. Kaltim punya focusing apa?” katanya.

Baca Juga: Jangan Cuma Lewat, Pelaku Wisata Kaltim Ingin Turis Betah Menginap dan Belanja

Peluang pengembangan komoditas pertanian menjadi semakin relevan ketika Kaltim tengah menghadapi kebutuhan diversifikasi sumber ekonomi. BPS mencatat nilai ekspor Kaltim sepanjang 2025 mencapai USD 21 miliar, turun 14,88 persen dibandingkan 2024.

Angka tersebut menggambarkan besarnya aktivitas perdagangan luar negeri Kaltim. Namun, struktur ekspor yang selama ini kuat ditopang komoditas berbasis sumber daya alam membuat pencarian komoditas baru menjadi penting.

Di titik itu, sektor pertanian dapat mengambil peran. Bukan untuk menggantikan batu bara dan sawit dalam waktu singkat, tetapi menambah sumber pertumbuhan ekonomi baru yang berasal dari komoditas yang dapat dibudidayakan secara berkelanjutan.

Bernatal menilai Kaltim tidak perlu selalu mendatangkan komoditas atau varietas dari daerah lain lalu memaksakannya tumbuh di sini. Sebaliknya, tanaman yang secara alami sudah mampu beradaptasi dengan lingkungan Kaltim perlu dipetakan dan dikembangkan. “Dilihat saja di situ tanaman apa yang tumbuh dengan baik. Jadi kembangkan di Kaltim,” tegasnya.

Baca Juga: Magnet IKN Dongkrak Bisnis Travel Kaltim, Tarif Hotel Tembus Rp 2 Juta

Selain pisang, ia menyebut tanaman seperti singkong dan sukun sebagai contoh komoditas pangan yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan karakter lanskap Kaltim. Bagi dia, kunci pengembangan pertanian Kaltim bukan sekadar mengejar sebanyak mungkin jenis komoditas, melainkan menemukan komoditas yang memiliki keunggulan kompetitif, kemudian membangun sentra produksinya secara konsisten. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
komoditas pisang Kaltim Faperta Unmul BPS KALTIM diversifikasi ekonomi Pertanian Kaltim