KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Pengembangan pertanian di Kaltim tak melulu harus dilakukan dengan membuka lahan baru baik untuk sawah atau sawit. Karakter alam daerah yang didominasi lanskap berhutan justru dinilai bisa menjadi modal untuk mengembangkan tanaman pangan berbasis pohon.
Gagasan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman (Faperta Unmul) Prof Bernatal Saragih. Menurutnya, Kaltim perlu melihat kembali karakter alamnya sebelum menentukan tanaman yang akan dikembangkan.
Bukan memaksakan pola pertanian dari daerah lain, melainkan memilih tanaman yang memang mampu beradaptasi dengan kondisi tanah dan topografi Kaltim. “Tanaman-tanaman yang berbasis hutan itu menjadi salah satu pilihan untuk Kaltim,” kata Bernatal.
Maksudnya, bukan pengembangan hutan tanaman industri (HTI). Bernatal merujuk pada tanaman pangan dan tanaman berbasis pohon yang dapat tumbuh dalam lanskap yang sesuai dengan kondisi alam Kaltim.
Baca Juga: Uniknya Karakter Warga Kaltim Beli Mobil, 90 Persen Langsung Incar Varian Tertinggi
Pisang menjadi salah satu contoh. Selain itu, ia menyebut singkong dan sukun sebagai tanaman yang bisa dipertimbangkan. “Contohnya, bisa pisang. Yang berbasis pohon misalnya. Bisa juga singkong atau sukun,” ujarnya.
Menurut Bernatal, pendekatan tersebut penting karena karakter tanah Kaltim berbeda dengan wilayah sentra pertanian seperti Jawa. Lapisan tanah atas atau topsoil di Kaltim relatif tipis, sementara tingkat keasaman tanah juga menjadi salah satu tantangan budidaya.
Kondisi itu membuat tanaman yang dikembangkan perlu disesuaikan dengan lingkungan. Tidak semua varietas yang berhasil di daerah lain otomatis memberikan hasil serupa ketika ditanam di Kaltim. “Belum tentu bisa sama persis. Apalagi tanah di Kaltim keasamannya sangat rendah pH-nya,” katanya.
Bernatal menilai pertanian Kaltim tidak harus diarahkan pada satu model yang seragam. Bahkan, tanaman pangan yang dapat dikembangkan melalui lahan kering atau lanskap yang tidak sepenuhnya berupa sawah bisa menjadi pilihan.
Baca Juga: Tak Melulu Batu Bara dan Sawit, Pisang Bisa Jadi Komoditas Andalan Kaltim
Pemerintah daerah sendiri telah memasukkan pengembangan padi lahan kering atau padi ladang dalam strategi pembangunan pertanian. Dalam dokumen kinerja Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, pengembangan padi lahan kering/padi ladang berjalan berdampingan dengan pengembangan padi sawah.
Namun, menurut Bernatal, diversifikasi tidak berhenti pada padi ladang. Tanaman pangan dan hortikultura yang memiliki karakter lebih sesuai dengan kondisi lokal juga perlu mendapat ruang.
Ia menyebut tanaman yang telah lama tumbuh baik di suatu wilayah sebenarnya dapat menjadi petunjuk awal untuk menentukan komoditas yang layak dikembangkan. “Dilihat saja di situ tanaman apa yang tumbuh dengan baik. Jadi kembangkan di Kaltim,” tegasnya.
Pendekatan tersebut juga tercermin dalam pengembangan hortikultura daerah. Dokumen Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim mencantumkan pisang, durian/lai, pepaya, jeruk, manggis, kelengkeng, alpukat, jambu kristal, sukun dan buah lokal lainnya dalam pengembangan kawasan hortikultura pola pekarangan.
Artinya, konsep pertanian Kaltim sebenarnya tidak harus selalu identik dengan hamparan sawah. Ada ruang bagi sistem produksi yang memanfaatkan tanaman tahunan dan tanaman pangan yang tumbuh di sekitar kawasan permukiman maupun lanskap pertanian yang lebih beragam.
Baca Juga: PT YWA Realisasikan 1.900 Kebun Plasma di Berau, Petani Mitra Raup Puluhan Juta Rupiah
Data BPS Kaltim terbaru juga menunjukkan basis produksi hortikultura daerah cukup besar. Publikasi Statistik Sayur-Sayuran dan Buah-Buahan Provinsi Kalimantan Timur 2025 mencatat data produksi 2025 untuk 24 jenis tanaman buah-buahan tahunan serta berbagai tanaman sayuran dan buah semusim.
Data tersebut disusun berdasarkan angka tetap 2025 hasil sinkronisasi BPS dengan Kementerian Pertanian. Pisang menjadi salah satu komoditas yang menonjol dalam produksi buah Kaltim. Sukun juga telah lama dibudidayakan di daerah ini dan masuk dalam daftar komoditas hortikultura yang dikembangkan pemerintah daerah.
Bagi Bernatal, persoalan utama pertanian Kaltim bukan sekadar bagaimana meningkatkan produksi, tetapi menentukan tanaman yang paling sesuai dengan kondisi setempat.
Ia menjelaskan, tanaman di Kaltim telah beradaptasi dengan kondisi tanahnya. Sistem perakaran tanaman yang tumbuh secara alami di daerah ini, misalnya, tidak selalu berkembang dengan pola yang sama dengan tanaman di tanah vulkanik atau tanah yang lebih dalam.
Baca Juga: Abu Krakatau Masih Mengancam, 7 Bandara Ditutup Sampai Malam Ini Pukul 23.59 WIB
Karena itu, pemilihan komoditas seharusnya menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan pertanian. “Sebaiknya memanfaatkan kondisi kita, topografi kita,” ujarnya.
Pendekatan tersebut sekaligus membuka kemungkinan agar pengembangan pangan tidak selalu identik dengan pembukaan lahan baru untuk sawah. Lanskap yang sudah ada dapat dimanfaatkan untuk tanaman yang sesuai, dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan fungsi kawasan.
Konsep ini menjadi relevan bagi Kaltim yang memiliki kawasan hutan luas dan tengah menghadapi perubahan struktur ekonomi. Pertanian tidak harus dibangun dengan cara mengubah seluruh lanskap menjadi lahan produksi, tetapi dapat dikembangkan melalui komoditas yang mampu beradaptasi dengan kondisi setempat.
“Pertanian itu diversifikasi menjadi penting. Satu sama lain saling support. Tapi ada focusing-nya,” kata Bernatal. Menurutnya, Kaltim perlu menemukan komoditas yang menjadi kekuatan khas daerah. Pisang, singkong, sukun dan tanaman pangan berbasis pohon lainnya bisa menjadi bagian dari pilihan tersebut. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo