BI Kaltim Dorong Digital Farming, Biaya Produksi Petani Turun hingga 25 Persen

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 19:15 WIB
EFISIEN: Pemanfaatan teknologi terbukti menekan biaya produksi padi hingga 25 persen.
EFISIEN: Pemanfaatan teknologi terbukti menekan biaya produksi padi hingga 25 persen.

SAMARINDA – Pengendalian inflasi pangan di Kalimantan Timur tak hanya dilakukan dengan menjaga stabilitas harga di pasar. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim memilih memperkuat sisi hulu dengan mendorong produktivitas sekaligus efisiensi usaha tani.

Langkah tersebut dilakukan melalui sejumlah program pengembangan pertanian bersama pemerintah daerah dan kelompok tani. Kepala KPw BI Kaltim Jajang Hermawan mengatakan, penguatan sektor pertanian merupakan bagian dari sinergi pengendalian inflasi sekaligus mendukung program swasembada pangan.

“Guna mendorong peningkatan produksi pertanian serta mendukung program Asta Cita Pemerintah terkait swasembada pangan, kami dari KPw BI Kaltim bersama pemerintah daerah di seluruh Kaltim terus menjalankan berbagai program pengembangan pertanian,” ujarnya.

Program yang dijalankan antara lain farming, fasilitasi good agriculture practices serta penguatan kelembagaan gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Tak hanya dari sisi budidaya, BI juga mendorong pemanfaatan teknologi melalui digital farming. Salah satunya dengan bantuan drone sprayer agriculture yang digunakan untuk penyemprotan pestisida, pemupukan hingga pembenihan.

Baca Juga: Produksi Beras Kaltim Naik Jadi 58 Persen, Target Swasembada 2026

Teknologi tersebut memangkas waktu pengerjaan secara signifikan. Jika sebelumnya proses penyemprotan pestisida, pemupukan dan pembenihan membutuhkan enam hingga delapan jam per hektare, kini pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

“Yang semula pada saat penyemprotan pestisida, pupuk, dan pembenihan memerlukan waktu 6 sampai 8 jam per hektar itu sekarang menjadi di kisaran di angka 8 sampai 10 menit saja per hektar,” katanya.

Efisiensi waktu tersebut turut berdampak pada biaya produksi. Jajang menyebut penggunaan teknologi mampu menekan biaya produksi sekitar 10 hingga 25 persen.

Hingga kini, sebanyak delapan paket drone sprayer agriculture telah disalurkan untuk mendukung produktivitas kelompok tani di sejumlah wilayah Kaltim.

Di Gapoktan Mandiri Anggana, Kutai Kartanegara, pemanfaatan teknologi tersebut juga cukup intensif. Drone telah digunakan sekitar 1.630 flight dengan cakupan lahan mencapai 204,82 hektare.

Menurut Jajang, peningkatan produktivitas dari sektor hulu menjadi penting dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus mengendalikan inflasi. Produksi yang meningkat dan biaya usaha tani yang lebih efisien diharapkan turut menjaga pasokan pangan di daerah.

Selain digital farming, BI mendorong penerapan sistem low external input sustainable agriculture (LEISA). Konsep tersebut mengoptimalkan sumber daya lokal dalam proses pertanian sehingga produksi dapat meningkat tanpa membebani biaya usaha tani.

“Jadi memang mengoptimalkan sumber daya lokal. Jadi di samping menaikkan produksi, juga menekan biaya,” sambungnya.

Jajang mengatakan berbagai program tersebut akan terus dievaluasi sebelum direplikasi ke kelompok tani lainnya. Menurutnya, penerapan sistem pertanian yang memanfaatkan sumber daya lokal juga penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.

“Keanekaragaman hayati bagus sehingga dalam jangka panjang memberikan keberlanjutan dalam sistem pertanian kita,” pungkasnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
Digital farming Kaltim Pengendalian inflasi pangan Drone pertanian Kaltim Pertanian Kaltim BI Kaltim