KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sembilan hektare lahan padi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, membuktikan bahwa inovasi budi daya mampu memberikan hasil signifikan. Produktivitas padi yang sebelumnya 4,8 ton per hektare kini melonjak menjadi 6,89 ton per hektare.
Direktur Politani Samarinda Hamka mengatakan peningkatan tersebut diperoleh setelah penerapan bioinvigorasi benih yang dipadukan dengan sistem low external input sustainable agriculture (LEISA).
Demplot tersebut merupakan riset kedua Politani Samarinda bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim. Sebelumnya, teknologi serupa sukses diterapkan di Bukit Biru, Kutai Kartanegara.
Baca Juga: 98,76 Persen Ekspor Kaltim Juli 2026 Lewat Pelabuhan Kaltim
Di lokasi sebelumnya, Hamka menyebut produktivitas padi naik dari sekitar 3,6 ton menjadi 6,2 ton per hektare. Sementara di Anggana, produktivitas awal memang sudah lebih tinggi, yakni 4,8 ton per hektare.
Hamka menjelaskan, perlakuan bioinvigorasi dilakukan sejak tahap pembibitan. Benih padi mendapat perlakuan khusus menggunakan mikroorganisme pengikat nitrogen serta jamur mikoriza.
“Dengan menggunakan mikroorganisme ini, perakaran benih kita jauh lebih bagus. Penyerapan unsur hara dari tanaman juga berlangsung optimal,” terangnya.
Teknologi ramah lingkungan tersebut dipadukan dengan sistem LEISA yang menekan ketergantungan pada input kimia. Kebutuhan pupuk sintetis dan pestisida dipangkas dengan mengoptimalkan potensi sumber daya hayati lokal.
Baca Juga: BI Kaltim Dorong Digital Farming, Biaya Produksi Petani Turun hingga 25 Persen
Selain fokus pada teknis budi daya, Politani Samarinda turut mendampingi kelembagaan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri. Pendampingan berjalan menyeluruh, mulai dari penguatan manajemen organisasi hingga strategi pemasaran hasil panen.
Hamka menilai capaian 6,89 ton per hektare sangat menggembirakan, terlebih musim tanam berlangsung di tengah tantangan cuaca kemarau. Terlebih, varietas benih yang digunakan memang memiliki potensi produksi hingga delapan ton per hektare.
“Jadi, ini boleh dikatakan sudah sangat berhasil. Hasil ini nyata meningkatkan produksi petani, khususnya di kawasan Anggana,” tuturnya di sela agenda panen bersama Gapoktan Mandiri Anggana, Kamis (10/9).
Ia berharap sinergi teknologi bioinvigorasi dan LEISA dapat diterapkan makin meluas di berbagai sentra pertanian Kaltim agar pendapatan petani terus terdongkrak.
Terlebih, dorongan mekanisasi alat mesin pertanian modern juga dinilai krusial untuk memangkas ongkos operasional sekaligus mendongkrak efisiensi kerja petani di lapangan. (*)
Editor : Duito Susanto