KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Nilai impor Kalimantan Timur mengalami pembalikan tajam pada Juli 2026. Setelah menembus USD1,19 miliar pada Juni, nilainya menyusut menjadi USD706,71 juta atau turun 40,63 persen dalam sebulan.
Penurunan terutama dipicu oleh impor migas yang terkoreksi cukup dalam. Nilai impor migas turun 44,30 persen, dari USD1.122,84 juta pada Juni menjadi USD625,39 juta pada Juli.
“Penurunan nilai impor disebabkan karena turunnya nilai impor migas 44,30 persen, meskipun nilai impor nonmigas meningkat 20,60 persen,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai.
Menariknya, impor nonmigas justru bergerak naik. Meningkat dari USD67,43 juta menjadi USD81,32 juta pada Juli atau tumbuh 20,60 persen. Tekanan terbesar pada impor migas berasal dari minyak mentah. Nilainya turun 50,67 persen secara bulanan, dari USD985,71 juta menjadi USD486,28 juta.
Baca Juga: Kemarau Panjang Bikin Panen Anjlok? Petani Anggana Justru Melejit Lewat Agen Hayati
Sementara hasil minyak justru meningkat 19,93 persen menjadi USD110,41 juta. Impor gas alam juga mengalami penurunan 36,32 persen menjadi USD28,70 juta.
Meski terkontraksi secara bulanan, kinerja impor Kaltim justru mencatat lonjakan jika dibandingkan Juli 2025. Nilainya meningkat 89 persen dari USD373,93 juta menjadi USD706,71 juta. Kenaikan tahunan tersebut terutama ditopang impor migas yang melonjak 129,17 persen.
Bahkan, impor minyak mentah tumbuh 152,78 persen dan hasil minyak meningkat 187,75 persen. Sebaliknya, impor gas alam turun 31,91 persen dan impor nonmigas terkontraksi 19,52 persen.
Secara kumulatif Januari-Juli 2026, nilai impor Kaltim mencapai USD4.664,16 juta, naik 68,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Impor migas mendominasi dengan nilai USD4.147,39 juta atau 88,92 persen dari total impor. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo