KALTIMPOST.ID - Setiap hari, pangan berpindah dari lahan ke pasar, berakhir jadi hidangan. Setiap komoditas membawa cerita tentang produksi, distribusi dan perjuangan memenuhi kebutuhan. Di balik sepiring makanan, tersimpan gambaran tentang Kaltim yang perlahan membangun jalan menuju kemandirian pangan.
SETENGAH kilogram cabai menjadi barang yang tak pernah luput dari daftar belanja Nuning Marniati ketika menyambangi Pasar Palaran. Ia gemar makanan pedas, sehingga cabai bukan sekadar pelengkap masakan. Rutin berbelanja ke pasar 2-3 dalam sepekan.
“Lomboknya biasa beli setengah kilo sekalian buat stok sambal,” ujar ibu tiga anak tersebut ditemui usai berbelanja, Selasa (15/9) pagi. Dari pasar, bahan pangan itu kemudian berpindah ke dapur rumah. Hari itu, ia menanak empat mug beras, kemudian menyiapkan tumis kangkung, sambal dan ayam goreng, sementara telur goreng disiapkan khusus untuk anak bungsunya.
Baca Juga: Stadion Segiri Kehilangan Jati Diri, Borneo FC Harus Tumbang dari Dewa United di Kandang Sendiri
Ia membeli beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) ketika ada Gerakan Pangan Murah (GPM) beberapa waktu lalu di Kelurahan Handil Bakti, Palaran, sedangkan ayam beku dan telur lokal diperolehnya melalui kegiatan pangan murah yang sama.
Jejak tersebut memperlihatkan bahwa pangan yang dikonsumsi masyarakat Samarinda memiliki cerita panjang mengenai dari mana bahan itu berasal dan seberapa jauh daerah mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Di tengah dorongan menjadikan Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai salah satu basis pangan nasional, pertanyaan mengenai kemandirian pasokan menjadi semakin penting.
DARI PETANI KE PASAR
Anita, pedagang sayur di Pasar Palaran, menjadi salah satu mata rantai terakhir sebelum hasil pertanian sampai ke tangan konsumen. Untuk cabai dan sejumlah sayuran, ia tidak selalu bergantung pada pasokan dari luar daerah karena sebagian kebutuhan diperoleh dari petani di sekitar.
“Cabai ini yang harganya sering berubah-ubah. Kalau momen Idulfitri itu bisa tembus Rp200 ribu per kilogram, kalau stok banyak dan permintaan turun itu jadi Rp40 ribuan per kilogram,” ungkap perempuan yang karib disapa Ani itu.
Namun, untuk komoditas tertentu, kebutuhan Samarinda masih harus ditopang pasokan dari luar Kaltim. Perumda Varia Niaga Samarinda mencatat ayam dan telur sebagai dua komoditas utama yang selama ini menjadi perhatian dalam upaya menjaga stabilitas pangan di Kota Tepian.
Direktur Utama Perumda Varia Niaga Samarinda Syamsuddin Hamade mengatakan, untuk ayam beku, pasokan masih banyak berasal dari Jawa dan Sulawesi. Sementara untuk telur, mulai menyerap produksi dari peternak lokal yang jumlahnya semakin berkembang.
Menurut dia, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah masih menjadi tantangan karena kebutuhan pangan Samarinda belum seluruhnya dapat dipenuhi dari produksi lokal. Namun, kondisi berbeda terlihat pada telur.
Pertumbuhan peternak lokal membuat komoditas tersebut dinilai memiliki peluang. “Kalau saya lihat, potensi untuk ketahanan pangan lokal kita itu ada di telur. Sama satu lagi, cabai! Itu saya lihat kita ada peluang besar,” ujarnya.
Varia Niaga bahkan membangun model percontohan peternakan ayam petelur, salah satunya melalui kandang yang persis berada di samping kantor perusahaan, Jalan Teuku Umar.
Di Penajam Paser Utara, perusahaan memiliki kandang dengan populasi 6.000 ekor, sementara kandang percontohan di Samarinda untuk menginspirasi masyarakat agar mengembangkan peternakan dengan pola yang sesuai lingkungan permukiman.
TELUR LOKAL JAWAB KEBUTUHAN
Optimisme serupa datang dari pelaku usaha peternakan lokal. Bambang Saputro, Founder PT Ekosistem Ternak Borneo, melihat produksi telur di Kaltim memiliki peluang besar untuk memenuhi kebutuhan daerah tanpa terus bergantung pada pasokan luar.
Perusahaannya tidak membangun bisnis dengan hanya mengandalkan kandang milik sendiri. Model yang dikembangkan mempertemukan peternak-peternak lokal dengan pasar melalui pola kemitraan, sementara perusahaan mengambil peran sebagai agregator dan memastikan hasil produksi memiliki jalur pemasaran.
Saat ini, pihaknya bermitra dengan enam peternak yang tersebar di sejumlah wilayah di Kutai Kartanegara. Model tersebut membuat peternak dapat lebih fokus pada produksi, sementara pemasaran ditangani oleh Bambang. Saat ini, produksi yang dikelola melalui jaringan tersebut mencapai 2 ribu piring telur per pekan.
Baca Juga: Antrean Pertalite Mengular di Kaltim, DPRD: Tambah SPBU Tak Cukup, Kuota Harus Naik
Bambang menilai perkembangan populasi ayam petelur lokal dalam dua tahun terakhir menunjukkan arah positif. Ia bahkan menyebut telur sebagai salah satu komoditas pangan yang paling cepat berpeluang dipenuhi dari produksi Kaltim.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat dan desa yang mulai menyadari pentingnya kemandirian pangan, ikut membuka peluang bagi peternakan lokal untuk berkembang. Selain mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar, produksi lokal juga memiliki keuntungan dari sisi jarak distribusi dan kesegaran produk.
Persoalannya bukan semata kemampuan memproduksi telur. Bambang menilai kepastian pasar dan regulasi juga menjadi bagian penting agar pertumbuhan peternakan lokal tidak berujung pada kerugian ketika pasokan dari luar masuk dalam jumlah besar.
Ia mencontohkan kondisi ketika produksi lokal sedang melimpah, tetapi telur dari luar daerah masuk dengan harga lebih rendah. Peternak yang memiliki modal dan kemampuan pemasaran terbatas kesulitan bersaing, terlebih sebagian peternak kecil membutuhkan perputaran uang cepat. “Jangan sampai kita sudah siap-siap, kita lagi senang-senangnya beternak, ternyata penjualannya slow karena mekanisme pasar enggak diatur,” sebutnya.
DARI TANAH SENDIRI
Upaya membangun kemandirian pangan juga tidak berhenti pada produksi telur. Dalam rantai peternakan, pakan menjadi bagian lain yang menentukan seberapa besar komoditas benar-benar dapat disebut mandiri.
Baca Juga: Kilang Balikpapan Suplai Pertalite ke Makassar, Alokasi BBM ke Balikpapan Tak Berkurang
Bambang saat ini turut mendampingi koperasi di Kota Bangun, Kutai Kartanegara yang mengembangkan pabrik pakan. Salah satu bahan baku yang didorong untuk dipenuhi dari petani lokal adalah jagung.
Dia menyampaikan bahwa persoalan pangan tidak cukup diselesaikan dengan mendorong masyarakat menanam atau beternak. Hasil produksi harus memiliki kepastian pasar agar petani dan peternak mempunyai alasan ekonomi untuk terus berproduksi. “Banyak yang terjadi di masyarakat, orang-orang ketika disuruh tanam jagung, terus ketika panen enggak ada yang beli,” ujarnya.
Oleh sebab itu, keberadaan pabrik pakan dinilai dapat menjadi titik temu antara petani jagung dan kebutuhan industri peternakan. Ketika pasar sudah tersedia, petani memiliki kepastian bahwa hasil panennya dapat diserap. Rantai tersebut pada akhirnya kembali pada satu pertanyaan besar: seberapa banyak pangan yang dikonsumsi masyarakat Kaltim dapat diproduksi oleh daerah sendiri?
Baca Juga: Sejumlah Titik Rawan Diperbaiki, Preservasi Jalan Simpang Belusuh–Mentiwan Mulai Terasa
PADI MEMPERLEBAR BASIS PANGAN
Peluang kemandirian juga terlihat dari sektor tanaman pangan, khususnya padi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim menunjukkan luas panen padi terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, dari 57,08 ribu hektare pada 2023 menjadi 63,04 ribu hektare pada 2024 dan kembali naik menjadi 66,52 ribu hektare pada 2025.
Kenaikan luas panen tersebut menunjukkan adanya ruang untuk memperbesar produksi pangan di daerah. Pemerintah Provinsi Kaltim tengah mendorong intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian melalui optimalisasi lahan serta pencetakan sawah baru.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji menyebut sekitar 28 ribu hektare sawah aktif telah tertanam dan produksi gabah kering panen hingga Agustus mencapai 218 ribu ton. “Sebelumnya kita hanya 30 persen memenuhi kebutuhan Kaltim. Dan sekarang syukur alhamdulillah kita sudah meningkat menjadi 58 persen,” kata Seno.
Bank Indonesia Kaltim juga mendorong pendekatan pertanian yang tidak hanya mengejar produksi, tetapi memperhatikan efisiensi dan keberlanjutan. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Jajang Hermawan mengatakan program pertanian yang dikembangkan mengoptimalkan sumber daya lokal melalui pendekatan Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA).
Menunjukkan bahwa peningkatan produksi pangan tidak selalu harus dilakukan dengan menambah input dari luar. Pemanfaatan sumber daya lokal, efisiensi biaya, teknologi dan pengelolaan lahan menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian berkelanjutan.
Hasilnya mulai terlihat, Jajang menyebut produktivitas padi yang dikembangkan melalui program tersebut meningkat dari 4,8 ton per hektare menjadi 6,95 ton per hektare atau naik 44,8 persen saat panen demplot padi Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri Anggana, Kutai Kartanegara, Kamis (10/9). “Jadi di samping menaikkan produksi, juga menekan biaya,” tegas Jajang.
ISI PIRING, CERITA KALTIM
Di rumah Nuning, makanan yang dia masak terlihat sederhana. Namun, bahan-bahan tersebut memperlihatkan bagaimana sistem pangan bekerja dari hulu ke hilir. Ada cabai dan kangkung yang tumbuh di sekitar Palaran dan berpindah dari petani ke kios Ani sebelum masuk ke dapur Nuning. Telur yang mulai banyak diproduksi peternak Kaltim, sementara beras dan ayam masih memperlihatkan adanya ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.
Di titik itulah gagasan Kaltim sebagai lumbung pangan tidak lagi sekadar berbicara tentang luas sawah, jumlah kandang atau tonase produksi. Tapi juga tentang apakah bahan makanan yang setiap hari masuk ke piring masyarakat dapat semakin banyak berasal dari tanah sendiri.
Baca Juga: Mutasi Pejabat Era Purbaya Batal, Dirjen Pajak Ungkap Ada Nama yang Tak Ikut Assessment
Kaltim memang belum sepenuhnya mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya. Namun, bertambahnya luas panen padi, tumbuhnya peternak telur lokal, mulai dibangunnya rantai pasok pakan dan munculnya berbagai model pertanian berkelanjutan memperlihatkan bahwa fondasi menuju kemandirian itu mulai dibangun dari berbagai sisi.
Seno menargetkan perluasan sawah aktif menjadi 40 ribu hektare pada 2027. Dengan produktivitas minimal tujuh ton per hektare dan potensi dua kali panen dalam setahun, ia membayangkan produksi Kaltim dapat meningkat signifikan.
Bagi Nuning, semua target besar tersebut pada akhirnya akan bermuara pada sesuatu yang sederhana. Bahan makanan yang tersedia di pasar, harganya terjangkau dan bisa dibawa pulang untuk dimasak menjadi makanan keluarga.
Sebab, lumbung pangan bukan hanya tentang seberapa banyak yang mampu diproduksi sebuah daerah. Tapi tentang seberapa dekat hasil produksi itu dengan meja makan masyarakatnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo