KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Minimnya agenda kegiatan serta agenda Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) mulai memberi tekanan terhadap pergerakan wisatawan nusantara ke Balikpapan.
Sebab kunjungan pelancong domestik selama ini menjadi penopang utama denyut pariwisata sekaligus penggerak ekosistem ekonomi di Kota Minyak.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan, Cokorda Ratih Kusuma mengakui adanya korelasi erat antara intensitas event dengan mobilitas wisatawan. Penurunan agenda secara langsung memengaruhi jumlah peserta dari luar daerah yang datang berkunjung.
"Penyusutan wisatawan itu dikarenakan berbagai hal, salah satunya ya minimnya event. Kalau event berkurang kegiatannya, sehingga berdampak pada kunjungan peserta juga," kata Ratih saat ditemui baru-baru ini.
Baca Juga: Sepiring Makanan dan Jalan Kemandirian Kaltim, Pangan Lokal Bertumbuh dari Sawah hingga Kandang
Keberadaan kalender kegiatan memegang peranan krusial karena karakter pelancong ke Balikpapan tidak semata-mata mengincar rekreasi. Sebagian besar kunjungan berkaitan erat dengan agenda kedinasan, bisnis, pendidikan, maupun perkumpulan komunitas.
Ketika arus kedatangan peserta kegiatan terhambat, dampaknya menjalar ke berbagai sektor penunjang. Rantai usaha mulai dari akomodasi, transportasi lokal, sektor kuliner, pusat perbelanjaan, hingga pelaku UMKM ikut merasakan imbas lesunya mobilitas tersebut.
Berdasarkan catatan Disporapar, jumlah kunjungan wisatawan nusantara ke Balikpapan pada semester I 2026 sebenarnya sempat mencatatkan capaian positif hingga 529.335 orang. Torehan tersebut bahkan menempati posisi tertinggi di Kalimantan Timur pada periode bersangkutan.
Baca Juga: Formula Baru BBM Subsidi Disiapkan Bahlil, Ini yang Sedang Dikaji
Meski demikian, Ratih menyebutkan bahwa tren kunjungan setelah paruh pertama tahun ini masih dalam proses penghitungan berkala. Pihaknya masih menunggu kompilasi data riil di lapangan. "Karena menunggu. Biasanya rekapan itu di akhir bulan," ujarnya.
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah kota tidak ingin berpangku tangan hanya mengandalkan agenda internal birokrasi. Disporapar terus mendorong pihak perhotelan, pengelola destinasi, dan sektor swasta untuk lebih proaktif menggelar atraksi baru.
"Kami berupaya bagaimana hotel-hotel maupun destinasi wisata mengajak masyarakat untuk kolaborasi. Menggandeng swasta, kita bersama-sama mengadakan event," jelas Ratih.
Menurutnya, saat agenda berskala besar sedang lowong, pergerakan wisatawan cenderung hanya menyasar tempat-tempat rekreasi harian. Sejumlah lokasi yang masih konsisten mencatatkan kunjungan di antaranya kawasan pantai dan destinasi berbasis lingkungan hidup.
"Kalau untuk wisata paling ke ekosistem sehari-hari, macam-macam, kebanyakan pantai. Seperti wisata mangrove, terus mereka ke UMKM seperti Desa Wisata Pringgondani itu masih jadi daya tarik," tuturnya.
Tekanan pergerakan pelancong ini turut tercermin pada performa perhotelan. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juli 2026 berada pada posisi 58,43 persen.
Baca Juga: Mutasi Pejabat Era Purbaya Batal, Dirjen Pajak Ungkap Ada Nama yang Tak Ikut Assessment
Meski naik tipis 0,71 poin dibandingkan Juli 2025 yang tercatat 57,72 persen, angka okupansi tersebut menyusut 0,59 poin jika disandingkan dengan capaian Juni 2026 yang sempat menyentuh 59,02 persen.
"Bagi pemerintah daerah, kolaborasi menjadi kunci. Hotel memiliki ruang untuk membuat kegiatan, destinasi dapat dikemas dalam paket kunjungan, sementara sektor swasta dan komunitas dapat menghadirkan agenda yang membuat wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk datang," pungkas Ratih. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo