KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Industri pengolahan Kaltim masih memiliki ruang untuk tumbuh pada 2026. Namun, lajunya diperkirakan lebih moderat karena sektor tersebut menghadapi sejumlah tantangan.
Mulai dari tingginya basis pertumbuhan tahun sebelumnya hingga keterbatasan pasokan bahan baku energi. Kondisi industri pengolahan tahun ini turut dipengaruhi dinamika produksi dan ketersediaan bahan baku energi.
“LU Industri Pengolahan diprakirakan tetap tumbuh positif, meskipun lebih moderat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama dipengaruhi oleh high base effect pada industri berbasis migas dan risiko keterbatasan pasokan bahan baku energi,” beber Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Bayuadi Hardiyanto.
Baca Juga: Bikin Kaget Pembeli, Harga Daun Kemangi di Balikpapan Naik Tiga Kali Lipat
Pada industri berbasis migas, pasokan minyak mentah dan gas menghadapi risiko akibat penurunan alami produksi. Ketidakpastian geopolitik serta potensi gangguan jalur pasok global juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Sementara itu, produksi sejumlah komoditas industri lainnya diprakirakan lebih terbatas seiring target produksi yang lebih rendah.
Di tengah tantangan tersebut, industri pengolahan masih mendapat dukungan dari optimalisasi kapasitas industri energi. Implementasi program B50 juga menjadi salah satu faktor yang diharapkan menjaga kinerja sektor tersebut.
Kinerja subsektor berbasis perkebunan sawit turut memberikan ruang bagi industri pengolahan untuk tetap bergerak. Potensi tersebut semakin terbuka seiring berlanjutnya proyek hilirisasi di Kaltim.
Baca Juga: Kasus Dugaan Asusila Anak di Balikpapan Barat, Guru Les Resmi Ditahan Polisi
Penguatan nilai tambah komoditas unggulan daerah, khususnya pada sektor nonmigas, dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri pengolahan.
“Kelanjutan proyek hilirisasi dan penguatan nilai tambah komoditas unggulan daerah di sektor nonmigas berpotensi memperkuat sumber pertumbuhan industri pengolahan secara lebih berkelanjutan,” sebut Bayuadi.
Dengan berbagai penopang tersebut, industri pengolahan diprakirakan tetap memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian Kaltim. Namun, ruang pertumbuhannya diperkirakan lebih terbatas dibandingkan tahun sebelumnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo