KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Passion yang sempat ditinggalkan selama lebih dari dua dekade akhirnya menemukan jalan pulang. Emelda Andayani kembali menekuni dunia fesyen setelah 23 tahun bekerja di sektor pelayaran.
Bukan sekadar menjadi desainer, dia kini memilih jalur pendidikan untuk membagikan ilmu kepada generasi baru. Perjalanan Emelda di dunia fesyen bermula sejak bangku sekolah. Dia merupakan lulusan SMK jurusan tata busana di Kota Tepian.
Ketertarikannya pada dunia desain membuatnya melanjutkan pendidikan sejalur di Bandung setelah menamatkan sekolah. Namun, kondisi industri fesyen pada era 1990-an membuat langkahnya tidak berlanjut. Setelah sempat merintis rumah mode yang berfokus pada produk rajutan, Emelda memilih bekerja di sektor pelayaran pada 1997.
Baca Juga: Bukan Sekadar Cetak Penjahit, Emelda Dorong Talenta Fesyen Kaltim Punya Ciri Khas
Selama 23 tahun, dunia pelayaran menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Hingga pada 2019, Emelda memutuskan pensiun dini dan kembali mengejar passion yang pernah ditinggalkan. “Sudah cukup, sekarang saya harus kembali ke passion saya yang awal,” kata founder Roda Seni Anthaqa tersebut.
Langkah pertamanya bukan langsung membuka pelatihan. Emelda memulai dengan berjualan kain yang didatangkan dari Bandung. Dia memanfaatkan media sosial untuk menawarkan kain-kain dengan motif dan jenis yang menurutnya belum banyak tersedia di Samarinda.
Usaha tersebut sempat berkembang. Namun pandemi Covid-19 membuat aktivitas perdagangan ikut berubah. Di tengah keterbatasan itu, Emelda justru menemukan peluang lain melalui produk rajutan.
Masker menjadi salah satu produk yang diproduksinya selama pandemi. Tidak ingin sekadar membuat perlengkapan pelindung, dia menambahkan unsur fesyen melalui sulaman dan inisial pada masker. Produk tersebut kemudian berkembang menjadi satu set bersama sarung tangan.
Baca Juga: Pertama di Kalimantan, PT BWL Kantongi Sertifikasi IFCC
“Pokoknya kalau ada ide, dilakukan saja. Nanti setelahnya mengalir. Itu yang saya percaya,” ujarnya. Dari perjalanan tersebut, Emelda mulai melihat bahwa dirinya lebih tertarik pada aspek edukasi dibandingkan memproduksi pakaian secara massal. Apalagi, usia menjadi salah satu pertimbangannya untuk tidak kembali memulai bisnis jahit dari nol.
Oleh sebab itu, Roda Seni Anthaqa dikembangkan sebagai wadah pendidikan sekaligus pengembangan industri kreatif. Di dalamnya terdapat aktivitas pelatihan, pengembangan produk fashion, hingga penyediaan perlengkapan yang mendukung proses belajar.
Perjalanan Emelda sebagai pengajar juga diperkuat dengan pengalaman mengikuti pelatihan di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP). Dia mengikuti sejumlah kelas, termasuk menjahit dan bordir, sebelum memperoleh sertifikasi metodologi mengajar hingga level 4.
Sertifikasi tersebut menjadi bekal penting untuk terjun lebih serius ke dunia pelatihan. “Saya tipe orang yang berkonsep. Saya mau ke mana, step-step-nya sudah saya persiapkan,” tuturnya.
Kini, aktivitas Emelda lebih banyak berkutat dengan pelatihan. Kelas tidak hanya dilakukan melalui kerja sama dengan BPVP, tetapi juga bersama sejumlah lembaga dan komunitas. Dia bahkan menerima peserta yang ingin belajar secara privat, terutama dalam desain dan pengembangan fashion.
Perjalanan panjang dari ruang kelas, pelayaran, perdagangan kain, hingga kembali menjadi pengajar membuat Emelda semakin yakin dengan pilihan yang diambil. Dia pun ingin tetap berada di jalur pendidikan selama masih mendapat kepercayaan untuk berbagi ilmu.
“Saya tetap fokus di edukasi. Selama masih diberi kepercayaan, sehat lahir batin, dan teman-teman masih banyak yang ingin belajar, insyaallah saya masih di sini,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo