KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) berlangsung dalam tekanan pada Selasa (22/9/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus berakhir di zona merah pada sesi pertama setelah tekanan jual semakin kuat.
IHSG tercatat turun 71,16 poin atau 1,11 persen ke posisi 6.313,57. Pergerakan pasar sebenarnya sempat dibuka positif. IHSG mengawali perdagangan di level 6.392,34 dan sempat menyentuh posisi tertinggi harian di 6.423,84.
Namun, kondisi berbalik setelah tekanan jual meningkat. Indeks bahkan sempat menyentuh titik terendah 6.277,68 sebelum bergerak naik dan kembali berada di kisaran 6.300.
Baca Juga: Waspada SIM Palsu! 500 beredar di Riau, Tarif hingga Rp1,7 Juta Korlantas Ungkap Modus Pelaku
Data perdagangan menunjukkan mayoritas saham bergerak melemah. Sebanyak 537 saham turun, sedangkan 269 saham bergerak stagnan dan hanya 157 saham yang menguat.
Sektor Energi Jadi Tekanan Terbesar
Dari sisi sektoral, sektor energi mencatat penurunan paling dalam dengan koreksi 3,07 persen.
Tekanan berikutnya berasal dari sektor real estat yang turun 1,50 persen dan sektor utilitas yang melemah 1,20 persen.
Nilai transaksi saham hingga akhir sesi pertama mencapai sekitar Rp7,97 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 19,64 miliar saham.
Baca Juga: Daftar 14 Pejabat Kemenkeu yang Dilantik Suahasil, Ada Ihsan Priyawibawa Pimpin DJP Kaltimtara
BYAN Anjlok 7,81 Persen
Salah satu saham yang paling besar memberikan tekanan terhadap IHSG adalah Bayan Resources (BYAN).
Saham perusahaan tersebut merosot 7,81 persen hingga berada di level Rp12.100. Penurunan BYAN memberikan kontribusi negatif sekitar 16,71 poin terhadap pergerakan IHSG.
Selain BYAN, beberapa saham berkapitalisasi besar lainnya juga menjadi pemberat indeks.
Di antaranya Bank Rakyat Indonesia (BBRI) yang memberikan kontribusi negatif 8,76 poin, disusul Bumi Resources Minerals (BRMS), Telkom Indonesia (TLKM), dan Bumi Resources (BUMI).
Di sisi lain, sejumlah saham masih mampu memberikan dorongan terhadap indeks.
Saham Amman Mineral Internasional (AMMN), Bank Central Asia (BBCA), Merdeka Gold Resources (EMAS), Indosat (ISAT), serta Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) tercatat menjadi beberapa saham yang menopang IHSG.
Investor Pantau Timur Tengah dan BI
Pergerakan pasar domestik juga berlangsung di tengah perhatian investor terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang mulai berlangsung Selasa.
Baca Juga: Amerika Serikat Sedang Pusing! Tertinggi Sepanjang Masa, Harga Solar Tembus Rp30.750 per Liter
Rapat tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua hari. Keputusan mengenai suku bunga acuan atau BI Rate akan diumumkan pada Rabu (23/9/2026).
Dalam RDG sebelumnya pada Agustus, Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen.
Untuk perdagangan selanjutnya, perkembangan pasar global, pergerakan harga komoditas, kondisi geopolitik, serta keputusan kebijakan moneter Bank Indonesia menjadi sejumlah faktor yang akan diperhatikan pelaku pasar.
Editor : Uways Alqadrie