El Nino Mengintai, Beras hingga Cabai Jadi Titik Rawan Inflasi Kaltim 2026

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 18:01 WIB
PERLUAS: Penyaluran beras SPHP terus diperluas untuk mengendalikan harga pangan.
PERLUAS: Penyaluran beras SPHP terus diperluas untuk mengendalikan harga pangan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Ancaman cuaca kering dan El Niño menjadi salah satu perhatian dalam pengendalian inflasi Kalimantan Timur (Kaltim) sepanjang 2026. Gangguan terhadap produksi pangan berpotensi menekan pasokan sejumlah komoditas strategis sekaligus mendorong kenaikan harga.

Risiko tersebut terutama perlu diantisipasi pada komoditas beras, bawang merah, dan aneka cabai. Tekanan dapat semakin kuat apabila biaya distribusi dari daerah sentra produksi ikut meningkat.

“Tekanan inflasi volatile food diprakirakan meningkat, terutama akibat risiko cuaca kering dan El Niño yang berpotensi mengganggu produksi komoditas pangan strategis,” beber Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Bayuadi Hardiyanto.

Menurutnya, pengendalian tekanan pangan perlu dilakukan dari sisi pasokan. Salah satunya melalui peningkatan produksi padi dengan penyelesaian program cetak sawah.

Baca Juga: Inflasi Kaltim 2026 Diproyeksi Naik, Harga Emas hingga Rupiah Jadi Perhatian

Selain itu, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) akan terus diperluas melalui berbagai saluran. Langkah tersebut ditopang dengan penguatan kapasitas penyimpanan dan cadangan pangan di sejumlah kabupaten/kota.

Efektivitas pengendalian harga pangan, lanjut Bayuadi, sangat bergantung pada kesinambungan pasokan dan kelancaran distribusi. Hal tersebut menjadi semakin penting ketika risiko gangguan cuaca meningkat.

Di tingkat daerah, pengendalian juga diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Program seperti Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), Gerakan Pangan Murah, optimalisasi SPHP, hingga kerja sama antardaerah menjadi bagian dari upaya menjaga pasokan sekaligus keterjangkauan harga.

“Sinergi tersebut menjadi semakin penting untuk memitigasi risiko gangguan produksi dan distribusi pangan serta meredam dampak tekanan harga global,” tuturnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
El Nino Kaltim Harga Pangan Samarinda Inflasi Kaltim Bank Indonesia Kaltim Beras sphp