KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Harga properti komersial di Balikpapan tercatat stabil pada triwulan II 2026 seiring menggeliatnya berbagai aktivitas ekonomi dan proyek strategis daerah. Kondisi ini tecermin dari hasil Survei Perkembangan Properti Komersial (PPKom) yang dirilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.
Berdasarkan survei tersebut, Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) Kota Minyak pada triwulan II 2026 berada pada level 105,70. Angka ini menunjukkan penurunan tahunan yang sangat tipis, yakni hanya 0,02 persen (yoy).
Capaian tersebut relatif stabil jika disandingkan dengan triwulan sebelumnya yang membukukan nilai indeks serupa, dengan koreksi 0,10 persen (yoy). Melandainya penurunan harga properti komersial ini menjadi sinyal positif pulihnya pasar komersial di Balikpapan.
Baca Juga: Harga Rumah Baru di Balikpapan Tumbuh Melandai, Hunian Tipe Kecil Masih Jadi Primadona
"Penurunan IHPK pada triwulan ini berlangsung jauh lebih terbatas karena didukung oleh membaiknya kinerja pada segmen ritel serta sektor perhotelan," ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi.
Secara rinci, indeks segmen ritel tercatat tumbuh positif sebesar 0,03 persen (yoy). Sementara itu, segmen hotel menunjukkan perbaikan nyata dengan kontraksi harga yang melandai ke angka 1,61 persen (yoy), membaik signifikan dibandingkan penurunan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,63 persen (yoy).
Menurut Robi, stabilitas harga properti komersial ini tidak lepas dari bergeraknya sejumlah motor penggerak ekonomi di Balikpapan dan kawasan sekitarnya. Aktivitas hilirisasi dan proyek infrastruktur skala besar memberi kontribusi langsung terhadap daya beli pasar.
"Mulai beroperasinya industri hilirisasi CPO, berlanjutnya konstruksi Wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN), serta penyelesaian proyek revamp Kilang Pertamina Balikpapan memberi daya dukung kuat terhadap aktivitas ekonomi dan konsumsi," terang Robi.
Baca Juga: Geliat Kuliner Balikpapan Kian Menjamur, Terungkap Alasan Izin Usaha Kerap Dikira Mandek
Selain itu, agenda pertemuan kedinasan dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) yang marak digelar turut mendongkrak tingkat okupansi perhotelan. Namun demikian, sektor ruang perkantoran komersial dinilai masih menghadapi tantangan permintaan yang belum sepenuhnya pulih.
"Aktivitas MICE dan perjalanan dinas terbukti efektif menopang permintaan di sektor perhotelan, kendati segmen perkantoran saat ini permintaannya masih bergerak terbatas," tambah Robi.
Menatap periode berikutnya, Bank Indonesia optimistis prospek sektor properti komersial maupun residensial primer di Balikpapan tetap menjanjikan. Arus mobilitas pekerja dan tenaga profesional ke wilayah ini diperkirakan kian bertambah sejalan dengan persiapan operasional berbagai kawasan industri baru.
Guna menjaga momentum pemulihan tersebut, otoritas moneter terus mempertebal stimulus pembiayaan perbankan. Salah satu instrumen utama yang dioptimalkan adalah Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM).
"Bank Indonesia terus memperkuat implementasi kebijakan KLM untuk mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit pada sektor prioritas, khususnya perumahan dan properti, demi menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah," tegas Robi.
Dukungan berkelanjutan dari pembiayaan perbankan dan akselerasi proyek industri diyakini mampu menjaga stabilitas pasar properti Balikpapan ke depan secara berkelanjutan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo