KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Aktivitas pertambangan Kalimantan Timur (Kaltim) mulai kembali menemukan pijakan pada triwulan II 2026. Perbaikan produksi turut menopang ekspor batu bara, terutama ke Tiongkok yang mencatat pertumbuhan signifikan di tengah melemahnya produksi domestik negara tersebut.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Bayuadi Hardiyanto mengatakan, lapangan usaha (LU) Pertambangan dan Penggalian tumbuh 1,43 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2026. Capaian tersebut membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih terkontraksi 1,19 persen.
Perbaikan tersebut turut didukung kepastian operasional setelah persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026. Kondisi itu memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan aktivitas produksi sekaligus memenuhi permintaan batu bara, termasuk dari pasar ekspor.
Baca Juga: Keruk SDA Tapi Bayar Pajak di Luar Kaltim, Bapenda Buru Kendaraan Operasional Perusahaan
“Volume ekspor batu bara mengalami perbaikan meski masih terkontraksi 5,70 persen (yoy), membaik dibandingkan dengan triwulan I 2026 yang terkontraksi 7,17 persen (yoy),” ujar Bayuadi.
Dari sejumlah negara tujuan utama, Tiongkok menjadi pasar yang menunjukkan perkembangan paling kuat. Volume ekspor batu bara ke Negeri Tirai Bambu tersebut tumbuh 20,90 persen (yoy).
Bayuadi menjelaskan, peningkatan ekspor ke Tiongkok berlangsung di tengah kontraksi produksi batu bara domestik negara tersebut. Situasi itu membuka ruang bagi peningkatan permintaan terhadap batu bara Indonesia.
Sementara itu, ekspor batu bara ke kawasan ASEAN dan India masih mengalami kontraksi masing-masing 2,06 persen dan 21,87 persen secara tahunan. Meski demikian, secara agregat volume ekspor batu bara ke tiga negara atau kelompok tujuan utama tersebut masih tumbuh 1,14 persen (yoy).
Baca Juga: Sistem Antrean Solar Subsidi di Samarinda Dialihkan ke Digital, Tunggu Surat Edaran Pemkot
Kenaikan pengiriman ke Tiongkok turut menahan kontraksi ekspor batu bara Kaltim agar tidak semakin dalam, terutama ketika kinerja ekspor ke India masih melemah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo