KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Cuaca yang lebih bersahabat dan kenaikan harga batu bara menjadi dua faktor yang ikut mengangkat aktivitas pertambangan Kalimantan Timur (Kaltim) pada triwulan II 2026.
Kondisi tersebut tidak hanya mendukung kelancaran produksi, tetapi juga memperkuat minat pelaku usaha untuk meningkatkan aktivitas tambang.
Rata-rata curah hujan Kaltim pada triwulan II 2026, berdasarkan data hingga Mei, mencapai 136,6 milimeter per bulan. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata periode yang sama tahun sebelumnya 260,7 milimeter per bulan.
Curah hujan yang lebih rendah memberikan kondisi operasional yang lebih mendukung bagi kegiatan tambang. “Curah hujan yang lebih rendah mendukung kelancaran aktivitas penambangan dan pengangkutan batu bara,” ungkap Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Bayuadi Hardiyanto.
Baca Juga: Ekspor Batu Bara Kaltim ke Tiongkok Tumbuh 20,90 Persen
Selain faktor cuaca, pergerakan harga juga memberikan dorongan bagi sektor tersebut. Harga batu bara internasional pada periode laporan meningkat 16,32 persen secara tahunan.
Kenaikan harga tersebut memperkuat insentif bagi pelaku usaha pertambangan untuk meningkatkan produksi. Dampaknya turut tercermin dari menguatnya pembiayaan ke sektor pertambangan.
Penyaluran kredit pertambangan berdasarkan lokasi proyek tumbuh 63,50 persen (yoy) pada triwulan II 2026. Pertumbuhan tersebut meningkat tajam dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 22,04 persen.
Bayuadi menyebut penguatan pembiayaan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya aktivitas usaha pertambangan. “Kondisi tersebut menggambarkan semakin kuatnya dukungan pembiayaan sejalan dengan meningkatnya aktivitas usaha pertambangan pada periode laporan,” jelasnya.
Baca Juga: Sistem Antrean Solar Subsidi di Samarinda Dialihkan ke Digital, Tunggu Surat Edaran Pemkot
Perbaikan aktivitas produksi, dukungan kondisi cuaca, kenaikan harga komoditas, hingga penguatan pembiayaan menunjukkan sektor pertambangan Kaltim mulai bergerak lebih ekspansif setelah mengalami kontraksi pada triwulan sebelumnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo