Ekspor Migas Balikpapan Anjlok 68,97 Persen, Sektor Nonmigas Jadi Penopang Utama Perdagangan

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 19:25 WIB
Kepala BPS Kota Balikpapan Marinda Dama Prianto.
Kepala BPS Kota Balikpapan Marinda Dama Prianto.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kinerja perdagangan luar negeri Kota Balikpapan mengalami tekanan cukup tajam pada Juli 2026 menyusul anjloknya nilai ekspor sektor minyak dan gas bumi (migas) hingga hampir 69 persen secara bulanan.

Nilai ekspor migas pada Juli hanya mencapai USD 32,86 juta. Capaian tersebut merosot drastis dibandingkan Juni yang sempat menembus angka USD 105,90 juta.

Artinya, dalam rentang waktu satu bulan, devisa ekspor migas terpangkas sebesar USD 73,04 juta atau terkoreksi 68,97 persen. Pelemahan ini juga terlihat secara tahunan jika disandingkan dengan capaian Juli 2025 yang bertengger di angka USD 46,76 juta, atau turun 29,73 persen.

"Tekanan terbesar pada neraca perdagangan Juli memang bersumber dari kontraksi ekspor migas yang berkurang lebih dari separuh nilai bulan sebelumnya," terang Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.

Baca Juga: Ekspor Balikpapan Terkoreksi Tajam 34,42 Persen pada Juli 2026

Di tengah pelemahan komoditas migas, sektor nonmigas terus membuktikan perannya sebagai bantalan utama penyangga aktivitas ekspor daerah. Pada Juli 2026, nilai pengapalan komoditas nonmigas tercatat sebesar USD 405,25 juta.

Meski angka tersebut terkoreksi 27,91 persen dibandingkan Juni yang mencapai USD 562,17 juta, kinerjanya secara tahunan masih tumbuh positif 4,90 persen dibanding Juli 2025 yang bernilai USD 386,32 juta.

Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juli 2026, total nilai ekspor Balikpapan telah mengumpulkan USD 4,09 miliar. Dari akumulasi angka tersebut, sektor nonmigas mendominasi secara mutlak dengan kontribusi USD 3,56 miliar atau menyumbang 87,02 persen, sedangkan migas hanya membukukan USD 530,96 juta atau 12,98 persen.

"Komposisi ini memperlihatkan bahwa fondasi aktivitas ekspor Balikpapan sepanjang tahun berjalan kian bertumpu pada daya saing komoditas nonmigas yang relatif stabil," jelas Marinda.

Baca Juga: Parit Dangkal Sebabkan Aliran Air Tersendat, Dinas PUPRK Bontang Lakukan Normalisasi

Jika dibedah berdasarkan kelompok komoditas, industri pengolahan memegang peranan paling vital. Sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini, nilai ekspor hasil industri pengolahan Balikpapan telah menembus angka USD 2,51 miliar.

Sementara itu, ekspor hasil tambang berada di urutan kedua dengan torehan USD 824,54 juta, disusul hasil komoditas pertanian yang masih bertaraf kecil di angka USD 0,62 juta.

Kendati demikian, komposisi bulanan pada Juli 2026 memperlihatkan pergeseran menarik. Ekspor hasil pertambangan justru melejit hingga USD 288,49 juta, melampaui hasil industri pengolahan yang tercatat USD 116,61 juta serta pertanian sebesar USD 0,16 juta.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, ekspor tambang melesat tumbuh 86,62 persen. Sebaliknya, hasil industri pengolahan mengalami penurunan 49,60 persen dan hasil pertanian terkoreksi 58,80 persen.

Dari peta negara tujuan ekspor, pasar kawasan Asia masih menjadi magnet utama komoditas yang dikirim melalui dermaga dan pelabuhan Balikpapan. Tiongkok tetap memimpin sebagai mitra dagang terbesar pada Juli 2026 dengan nilai transaksi USD 167,40 juta atau menyerap 38,21 persen dari total ekspor.

Posisi berikutnya ditempati Filipina dengan nilai USD 92 juta atau 21 persen, dan Malaysia yang membukukan USD 59,44 juta atau 13,57 persen. Ketiga negara ini menyerap 72,78 persen pangsa ekspor Balikpapan.

Baca Juga: Antrean Pertalite di SPBU Berau Makin Panjang, Kendaraan Sudah Mengular sejak Pukul 04.00 Wita

"Pasar tradisional di Asia masih menjadi tujuan utama arus logistik ekspor kita, di mana Tiongkok, Filipina, dan Malaysia secara bersama-sama menguasai lebih dari tujuh puluh persen total pengapalan," beber Marinda.

Adapun negara tujuan lain seperti Vietnam menyerap USD 34,40 juta, Singapura USD 28,15 juta, India USD 27,86 juta, Korea Selatan USD 21,59 juta, dan Belanda USD 4,89 juta, serta sisanya terbagi ke berbagai negara lain senilai USD 2,38 juta.

Kendati beberapa pasar utama terkoreksi tajam, seperti Singapura yang anjlok 64,51 persen dan India turun 40,44 persen, ceruk pasar alternatif justru mencatat lonjakan impresif. Ekspor menuju Korea Selatan tercatat melonjak 66,72 persen dari USD 12,95 juta pada Juni menjadi USD 21,59 juta pada Juli, disusul Filipina yang naik 17,21 persen.

Baca Juga: Siswa SD Lampung Tengah Meninggal Usai Tersedak Kelengkeng dari Menu MBG

Dinamika ekspor lintas negara ini memberi pengaruh nyata bagi denyut ekonomi Balikpapan, terutama dalam menggerakkan aktivitas pelabuhan, rantai pasok logistik, dan industri hilirisasi daerah.

"Pergerakan ini menandakan ekspor daerah kita masih bergerak sangat dinamis. Penurunan permintaan di satu kawasan berhasil diimbangi oleh penguatan permintaan dari negara tujuan lain yang sedang bertumbuh," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Migas Balikpapan Ekonomi Kaltim perdagangan luar negeri Ekspor Balikpapan BPS Balikpapan