KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Industri pengolahan Kalimantan Timur (Kaltim) masih mencatat pertumbuhan pada triwulan II 2026. Namun, lajunya mulai tertahan seiring pelemahan ekspor sejumlah komoditas utama.
Kondisi tersebut terutama terlihat pada ekspor crude palm oil (CPO) dan bahan kimia anorganik. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim Bayuadi Hardiyanto mengatakan, lapangan usaha (LU) industri pengolahan tumbuh 2,28 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2026.
Pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,11 persen.
Baca Juga: Gaza Bakal Direkonstruksi, Board of Peace Gelontorkan Rp43 Triliun untuk 66 Proyek
"Perlambatan tersebut berlangsung di tengah pelemahan kinerja ekspor CPO dan bahan kimia anorganik," ujar Bayuadi.
Volume ekspor CPO Kaltim pada triwulan II 2026 terkontraksi 15,56 persen (yoy). Penurunan itu lebih dalam dibandingkan kontraksi pada triwulan I 2026 yang sebesar 7,23 persen.
Tekanan juga terjadi pada ekspor bahan kimia anorganik. Setelah tumbuh 8,27 persen pada triwulan I 2026, volumenya berbalik terkontraksi 11,79 persen (yoy) pada triwulan II.
Menariknya, pelemahan volume ekspor CPO terjadi ketika harga komoditas tersebut justru membaik. Harga CPO Kaltim tumbuh 8,05 persen (yoy), berbalik dari kontraksi 1,30 persen pada triwulan sebelumnya.
"Namun demikian, perbaikan harga tersebut belum diikuti oleh perbaikan pertumbuhan volume ekspor CPO pada periode laporan," jelasnya.
Baca Juga: Tiga Tahun Beruntun Tembus Final, SSB Dostep Balikpapan Tatap Turnamen Internasional di Bali
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan laju industri pengolahan Kaltim. Meski demikian, sejumlah indikator aktivitas industri lainnya masih menunjukkan perkembangan positif. (*)
Editor : Ery Supriyadi