Putus Sekolah akibat Utang, Subhash Chandra Kini Jadi Taipan Media Berharta Rp 100 Triliun

Ari Arief • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 12:57 WIB
Subhash Chandra.(IST)
Subhash Chandra.(IST)

 

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Tekanan finansial dan krisis keluarga di masa muda tidak menjadi penghalang bagi Dr. Subhash Chandra untuk meraih kesuksesan tingkat dunia. Pria kelahiran Adampur Mandi, Haryana, India ini sukses bertransformasi dari remaja putus sekolah hingga menjadi taipan media yang merevolusi lanskap penyiaran di negaranya.

Dikutip dari Making Peace with Life, Chandra tumbuh di tengah keluarga pedagang komoditas pertanian. Namun pada 1967, bisnis keluarganya gulung tikar dan menyisakan utang lebih dari 600 ribu rupee. Krisis tersebut memaksa Chandra yang saat itu berusia 17 tahun untuk mengubur impiannya menjadi insinyur dan berhenti sekolah akibat kendala biaya.

Baca Juga: Produksi Sayur Balikpapan Anjlok 60 Persen, DKP3 Siapkan Sumur Bor Darurat

Di tengah keterbatasan, naluri bisnis Chandra terus mengasah keberaniannya mengambil risiko. Ia merambah berbagai lini industri baru, mulai dari manufaktur kemasan plastik lentur melalui Essel Packaging hingga membangun taman hiburan modern pertama di India, EsselWorld, pada 1989.

Langkah berani tersebut membuahkan hasil manis. Kekayaan bersih (net worth) Subhash Chandra sempat menembus angka fantastis sebesar USD 5,6 miliar atau sekitar Rp 100 triliun (kurs Rp 17.964 per USD), yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu konglomerat terkaya di India.

Baca Juga: RAPBN 2027: Belanja Negara Tembus Rp4.097 Triliun, Tertinggi dalam Sejarah Indonesia

Dikutip dari WION News, puncak manuver bisnis Chandra terjadi pada 1992 saat ia nekat mendirikan Zee TV, saluran televisi satelit swasta pertama di India. Langkah ini tergolong sangat berisiko lantaran industri penyiaran India kala itu sepenuhnya dikuasai monopoli saluran milik pemerintah, Doordarshan.

Guna menyiasati regulasi domestik yang belum mengizinkan stasiun TV swasta beroperasi langsung dari India, Chandra menyewa transponder dari penyedia satelit AsiaSat di Hong Kong agar siaran Zee TV dapat menjangkau pemirsa di tanah airnya.

Baca Juga: Proyek Rp12,8 Miliar di Kutim Diperiksa Kejari, Dugaan Kerugian Negara Capai Rp2,25 Miliar

Tantangan besar kembali menghampiri saat konglomerat media global, Rupert Murdoch, membeli saham mayoritas pemilik AsiaSat dan berupaya mengambil alih Zee TV. Meski Murdoch menyodorkan tawaran dana berlipat ganda, Chandra dengan tegas menolaknya. Ia menegaskan bahwa usaha dan negaranya tidak untuk dijual, lalu membeli kembali seluruh saham mitranya guna mengamankan kendali penuh atas perusahaan.

Keberanian Chandra mendobrak tradisi penyiaran tak hanya mengubah pola konsumsi hiburan masyarakat, tetapi juga menciptakan ribuan lapangan kerja baru di sektor media dan kreatif. Meski sempat ditertawakan di awal kariernya di Mumbai karena kurang fasih berbahasa Inggris, ia tetap konsisten mewujudkan ide-ide besarnya.

Baca Juga: Siap Gelap-gelapan! 21 Area Samarinda Mati Lampu Lagi, Giliran KS Tubun sampai Abd Muthalib

Atas kontribusi besar tersebut, Chandra dianugerahi gelar doktor kehormatan dari University of East London dan dijuluki sebagai "Bapak Televisi Swasta India". Perjalanan hidup sosok visioner ini menjadi bukti nyata bahwa himpitan utang dan keterbatasan pendidikan formal bukanlah penghalang untuk mengukir prestasi di panggung global.(*)

Editor : Thomas Priyandoko
TV Swasta Subhash Chandra india