SAMARINDA – Pertamina melalui program Pertamuda Seed and Scale kembali menggelar Pertamuda Workshop Series (PWS). PWS 8 bertajuk “What Investors Really Look For?” digelar di Ruang Teater, Gedung SLC Lantai 1 FMPA Universitas Mulawarman (Unmul), Kamis (17/9).
Kegiatan tersebut diinisiasi Unit Penunjang Akademik Pengembangan Karier dan Kewirausahaan (UPA Perkasa) Unmul. Workshop membahas perspektif investor dalam menilai sebuah startup, mulai dari kemampuan founder hingga potensi pasar dan keberlanjutan bisnis.
Tiga pembicara hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Audy Arwinandha Nasution, Sr. Expert I Non-Government Relations PT Pertamina (Persero); Ali Zainal Abidin Alaydrus, dosen KF UPA Pengembangan Karier dan Kewirausahaan Unmul; serta Risky Altaresh, TOP 3 Pertamuda 2022, CEO TamanSchool sekaligus Presiden Preneurs Indonesia.
Ali mengatakan, startup tidak cukup hanya memiliki ide menarik. Produk atau layanan yang dikembangkan harus berangkat dari persoalan nyata dan memiliki peluang untuk menjadi bisnis yang berkembang.
“Startup bukan soal ide yang bagus, melainkan solusi terhadap masalah nyata yang dapat menjadi medium untuk bisnis bertumbuh. Jatuh cintalah pada masalah, bukan pada ide. Sebelum membangun sesuatu yang besar, buktikan dulu dari yang terkecil,” katanya.
Baca Juga: Bisnis F&B Kaltim Tumbuh 13,79 Persen, Transaksi Naik tapi Omzet Hanya Bertambah 3 Persen
Sementara itu, Risky menyoroti peran founder dalam menentukan perkembangan sebuah startup. Menurut dia, investor tidak hanya melihat ide, tetapi juga kemampuan founder dalam mengeksekusi, beradaptasi, memahami persoalan, dan membangun ekosistem pendukung.
“Bangun sesuatu yang dicintai pelanggan, dan investor akan mencintai apa yang kita bangun. Ide itu murah. Seorang founder yang kuat harus mampu terus mencari jalan ketika menghadapi kegagalan,” ujarnya.
Dari sisi korporasi, Audy mengingatkan peserta agar tidak hanya melihat industri secara umum. Founder perlu memandangnya sebagai pasar dengan karakteristik, kebutuhan, dan segmen yang berbeda.
Menurutnya, langkah awal adalah mengidentifikasi masalah yang hendak diselesaikan, kemudian menguji apakah produk benar-benar menjawab kebutuhan tersebut dan siapa calon penggunanya. Dari pemetaan itu, founder dapat menentukan model pasar, termasuk B2B atau B2C, sekaligus mengukur potensi bisnis.
Workshop juga membahas kesiapan startup dalam menghadapi fase pertumbuhan. Pemahaman terhadap kebutuhan pasar, kemampuan membangun bisnis berkelanjutan, serta kapasitas founder menjadi sejumlah aspek yang perlu diperhatikan ketika sebuah usaha mulai mencari pendanaan.
Pendaftaran Pertamuda Seed and Scale 2026 masih dibuka hingga 27 September. Informasi dan pendaftaran tersedia melalui laman Pertamuda serta akun Instagram @pertamuda. (kpg/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan