KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Arus barang impor yang masuk melalui pelabuhan di Kota Balikpapan pada Juli 2026 didominasi oleh pasokan asal Nigeria dan Brasil dengan porsi mencapai lebih dari 62 persen.
Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan mencatat total nilai impor pada periode tersebut menyentuh angka 631,24 juta dolar AS. Dari total tersebut, Nigeria menempati posisi teratas sebagai negara pemasok terbesar.
Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama mengungkapkan, barang impor asal Nigeria tercatat mencapai 271,77 juta dolar AS. Angka ini setara dengan 43,05 persen atau hampir separuh dari total pasokan impor yang masuk ke Kota Minyak.
"Nilai impor yang melalui pelabuhan di Balikpapan pada Juli 2026 tercatat sebesar 631,24 juta dolar AS, atau turun sebesar 46,47 persen dibandingkan dengan Juni 2026," terang Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama.
Baca Juga: Kondisi Kritis Tahura Bukit Soeharto: 23 Ribu Hektare Dikuasai, 420 Hektare Terbakar
Kendati berada di urutan teratas, nilai impor dari negara di kawasan Afrika Barat tersebut sesungguhnya menyusut jika disandingkan dengan bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, impor asal Nigeria bertengger di angka 375,38 juta dolar AS, sehingga terjadi penurunan sebesar 103,61 juta dolar AS atau 27,60 persen secara bulanan.
Posisi kedua ditempati oleh Brasil dengan nilai impor sebesar 119,76 juta dolar AS atau menyumbang 18,97 persen dari keseluruhan impor Juli. Serupa dengan Nigeria, pasokan dari negeri Samba ini juga mengalami penurunan sebesar 11,51 persen dibanding capaian Juni yang kala itu menyentuh 135,33 juta dolar AS.
"Komposisi pasokan pada Juli memperlihatkan bahwa sumber impor Balikpapan masih sangat terkonsentrasi pada beberapa negara mitra utama, dengan Nigeria dan Brasil saja menguasai sekitar 62 persen," jelas Marinda.
Sementara itu, posisi ketiga ditempati oleh Amerika Serikat dengan kontribusi sebesar 34,54 juta dolar AS atau 5,47 persen. Di belakangnya, Singapura memasok sebesar 26,96 juta dolar AS atau 4,27 persen, setelah mengalami penurunan tajam hingga 52,86 persen dibandingkan bulan Juni.
Baca Juga: Kadin Padel Competition Samarinda: Ajang Olahraga dan Peluang Bisnis Ratusan Pengusaha
Adapun mitra dagang dari Asia Timur dan Asia Tenggara lainnya mencatatkan porsi yang relatif kecil. China membukukan nilai impor sebesar 7,89 juta dolar AS atau 1,25 persen, disusul Malaysia yang mencatat 7,12 juta dolar AS atau 1,13 persen.
Penurunan pasokan dari Malaysia tercatat paling drastis secara persentase, yakni anjlok sebesar 81,64 persen dibanding Juni lalu. Selain itu, ada pula negara yang pada bulan sebelumnya memasok dalam jumlah masif namun terhenti total pada Juli, salah satunya Gabon yang sebelumnya membukukan impor 183,04 juta dolar AS menjadi nol.
"Negara-negara lainnya secara gabungan menyumbang 163,20 juta dolar AS atau sekitar 25,85 persen dari total impor yang masuk," terang Marinda lebih lanjut.
Walau aktivitas impor secara bulanan mengalami kontraksi cukup dalam, potret perdagangan luar negeri Balikpapan secara tahunan justru memperlihatkan denyut yang sangat ekspansif. Pasalnya, realisasi impor Juli 2026 tercatat masih 86,20 persen jauh lebih tinggi dibanding performa pada Juli 2025.
Kondisi ini menandakan bahwa geliat industri pengolahan maupun kebutuhan barang modal di Balikpapan sepanjang tahun berjalan tetap berada pada level yang jauh lebih kuat dibanding periode yang sama tahun lalu.
"Secara keseluruhan, struktur impor Balikpapan masih ditopang pasokan komoditas strategis dari segelintir negara mitra utama yang menopang ketahanan operasional industri pengolahan lokal," ucapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo