Neraca Perdagangan Balikpapan Defisit USD 193,13 Juta, Impor Minyak Mentah Jadi Pemicu Utama

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 20:28 WIB
DOMINASI: Besarnya impor migas di Balikpapan tidak lepas dari perannya sebagai pusat pengolahan energi strategis nasional.
DOMINASI: Besarnya impor migas di Balikpapan tidak lepas dari perannya sebagai pusat pengolahan energi strategis nasional.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Aktivitas perdagangan luar negeri Balikpapan pada Juli 2026 mencatatkan defisit sebesar USD 193,13 juta, menyusul tingginya arus barang masuk dibandingkan komoditas yang keluar.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Balikpapan, nilai ekspor yang dibukukan pada periode ini mencapai USD 438,11 juta. Di sisi lain, nilai impor menembus angka USD 631,24 juta.

Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama menjelaskan, posisi defisit ini terjadi akibat tingginya pasokan kebutuhan energi yang masuk lewat pintu pelabuhan lokal. Nilai impor masih lebih tinggi sekitar USD 193 juta dibandingkan capaian ekspor.

"Nilai impor yang melalui pelabuhan di Kota Balikpapan pada Juli 2026 tercatat sebesar USD 631,24 juta, sedangkan nilai ekspor berada di posisi USD 438,11 juta," ujar Kepala BPS Balikpapan Marinda Dama dalam rilis resmi perkembangan perdagangan.

Baca Juga: Nigeria dan Brasil Kuasai 62 Persen Impor Balikpapan pada Juli 2026

Kendati neraca perdagangan secara keseluruhan merah, tekanan tersebut tidak terjadi merata di seluruh sektor industri. Sektor nonmigas Kota Beriman justru tampil tangguh dengan torehan surplus sebesar USD 359,99 juta.

Kinerja ekspor nonmigas tercatat perkasa mencapai USD 405,25 juta, sementara impor nonmigas hanya sebesar USD 45,26 juta. Kondisi berbalik tajam pada sektor migas yang mengalami jurang defisit sangat dalam hingga USD 553,12 juta.

"Struktur perdagangan kita sangat dipengaruhi oleh kebutuhan migas. Ekspor migas kita pada Juli hanya menyentuh USD 32,86 juta, berbanding jauh dengan impor migas yang melonjak sampai USD 585,98 juta," beber Marinda.

Besarnya impor migas di Balikpapan tidak lepas dari perannya sebagai pusat pengolahan energi strategis nasional. Komoditas minyak mentah mendominasi sebagian besar nilai barang masuk melalui pelabuhan setempat.

Baca Juga: Kadin Padel Competition Samarinda: Ajang Olahraga dan Peluang Bisnis Ratusan Pengusaha

Pada Juli saja, nilai impor minyak mentah mencapai USD 486,28 juta. Akumulasi impor minyak mentah sejak Januari hingga Juli 2026 bahkan sudah menembus angka USD 3,23 miliar.

Di panggung ekspor, pasar internasional masih menyerap komoditas nonmigas unggulan asal Kalimantan Timur secara konsisten. Tiongkok menjadi negara mitra dagang terbesar dengan nilai pembelian mencapai USD 167,40 juta.

Posisi berikutnya disusul oleh Filipina dengan nilai transaksi sebesar USD 92 juta, serta Malaysia yang menyerap ekspor senilai USD 59,44 juta.

"Pasar nonmigas tetap menjadi penopang utama ekspor Balikpapan, terutama permintaan dari China, Filipina, dan Malaysia yang terus bergerak stabil," pungkas Marinda.

Secara nasional neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2026 masih membukukan surplus sebesar USD 121,9 juta, namun tingginya arus pasokan minyak mentah membuat neraca lokal Balikpapan bergerak dengan dinamika tersendiri. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Ekspor Nonmigas Balikpapan neraca perdagangan Balikpapan Impor Minyak Mentah ekonomi Balikpapan BPS Balikpapan