Kisah Andi Kalaru Merawat Warisan Keluarga, Jual Kehidupan Bukan Sekadar Rumah

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Sabtu, 26 September 2026 | 20:29 WIB
GENERASI KEDUA: Andi Kalaru melanjutkan bisnis properti keluarga yang dirintis almarhum ayahnya, Andi Basso. Sejak 2021, ia mendapat mandat meneruskan usaha tersebut dan mengembangkannya.
GENERASI KEDUA: Andi Kalaru melanjutkan bisnis properti keluarga yang dirintis almarhum ayahnya, Andi Basso. Sejak 2021, ia mendapat mandat meneruskan usaha tersebut dan mengembangkannya.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Menjaga warisan keluarga di industri properti bukanlah perkara membalik telapak tangan, terutama ketika tongkat estafet kepemimpinan berpindah ke pundak generasi kedua. Namun, tantangan ini coba ditaklukkan Direktur Utama Rachmat Group Land, Andi Kalaru.

Andi ingat betul ketika masih kecil hanya mengekor langkah sang ayah, almarhum Andi Basso, meninjau hamparan tanah merah dan proyek perumahan. Kala itu, dia belum menyentuh urusan manajerial ataupun menentukan arah bisnis. Rachmat Group Land sendiri berdiri sejak ia baru duduk di bangku sekolah menengah pertama.

"Perusahaan ini adalah perusahaan keluarga dari almarhum. Saya ini termasuk generasi kedua, penerus beliau," ungkap Andi Kalaru saat mengenang awal perjalanannya.

Pada 2021, amanah besar resmi jatuh ke tangannya setelah sebelumnya dijalankan sang ayah dan dilanjutkan kakaknya, Andi Sangkuru. Bagi Andi, memimpin bisnis keluarga yang telah mapan memiliki tantangan tersendiri dibanding memulai dari nol.

Baca Juga: Bantu Stok Darah Medis, Insan Pegadaian dan Warga Balikpapan Kompak Donor Darah

"Kalau saya lebih sulit mempertahankan dan membuat ini lebih berkembang lagi, lebih maju lagi. Kalau mau mulai dari nol kan kita bisa menyesuaikan, kita mau seperti apa. Tapi kalau mau melanjutkan, apa yang sudah ada itu bagaimana kita buat lagi menjadi lebih baik," tutur anak keenam dari tujuh bersaudara tersebut.

Kini, perusahaan telah menuntaskan dan mengembangkan tiga proyek hunian utama di Kota Minyak, yaitu Perumahan Sepinggan Pratama, Permata Gading, serta Gading Pratama. Seiring rencana proyek baru, satu petuah mendiang orang tua selalu terpatri dalam benaknya, yakni berbisnis dengan kejujuran mutlak tanpa mengambil hak orang lain.

Menengok ke belakang pada 2001 silam, kawasan yang kini menjadi Perumahan Sepinggan Pratama di Balikpapan Selatan tampak sangat berbeda. Wilayah tersebut dulunya berupa perbukitan curam yang sepi dan minim fasilitas penunjang.

Baca Juga: Perpaduan Legit Ketan Hitam dan Mango Sago, Sensasi Minuman Khas Singapura Kini Hadir di Samarinda

"Kalau jujur di tahun 2001 itu kan pasti melihatnya, aduh ini mau jadi perumahan. Ini kawasannya bergunung-gunung, penuh dengan gunung-gunung. Pasti tidak mudah," kenang Andi sembari tersenyum.

Namun, visi sang ayah terbukti jitu seiring laju pertumbuhan kota yang pesat. Kini, kawasan hunian tersebut terhubung dekat dengan fasilitas publik strategis, mulai dari rumah sakit, Mapolda Kaltim, Bandara Internasional SAMS Sepinggan, hingga pusat perbelanjaan.

Bahkan di dalam kawasan Sepinggan Pratama yang pembangunannya telah menyentuh 85 persen, tersedia fasilitas pendidikan dari kelompok bermain hingga sekolah dasar. Tak berhenti di situ, pengembang juga melengkapinya dengan lapangan futsal, kolam renang hingga lapangan bulu tangkis.

Bagi Andi, sebuah hunian bukan sekadar kotak semen tempat berteduh atau instrumen investasi semata. Rumah harus menjadi ekosistem yang aman, nyaman, dan mampu menumbuhkan interaksi sosial antarpenghuninya.

"Dan di situlah menariknya perjalanan sebuah kawasan, perubahan nilainya bukan hanya terjadi pada harga tanah, tetapi juga pada kehidupan yang tumbuh di atasnya," bebernya.

Filosofi menghadirkan kehidupan nyata tercermin jelas pada Minggu pagi di Sepinggan Pratama. Kawasan ini secara rutin bertransformasi menjadi ruang publik interaktif melalui agenda Car Free Day, senam bersama, hingga aksi donor darah berkala.

Sedikitnya 50 pelaku UMKM lokal dibina dan dirangkul untuk membuka lapak dagangan di sepanjang jalan perumahan. Penjual dan pembeli berbaur tanpa sekat, menciptakan perputaran ekonomi mikro yang sehat bagi warga perumahan maupun masyarakat sekitar.

Baca Juga: Tak Perlu Terbang ke Negeri Singa, Sensasi Kuliner Autentik Singapura Kini Hadir di Samarinda

"Kita berharap berdampak baik untuk kehidupan masyarakat sekitar," kata Andi seraya menjelaskan bahwa pembeli masa kini tak lagi hanya bertanya soal luas tanah atau kamar, melainkan suasana kehidupan yang ditawarkan.

Ketika warga rutin berkumpul, menikmati sarapan dari gerobak UMKM, dan anak-anak leluasa berlari pagi, perumahan tersebut telah memiliki jiwa yang tidak bisa digambarkan oleh lembaran brosur promosi.

Industri properti membutuhkan komitmen modal yang masif serta perencanaan matang. Menyadari hal tersebut, ibu tiga anak ini pantang mengambil langkah spekulatif yang hanya bertumpu pada perkiraan dangkal.

Ia memadukan kalkulasi data lapangan dengan insting bisnis yang terasah selama bertahun-tahun. Kondisi arus kas dijaga ketat agar perusahaan tetap tangguh di tengah dinamika ekonomi tanpa harus mengorbankan kesejahteraan para pekerja.

Baca Juga: HGU Perusahaan Habis, Pakar Unmul Desak Negara Fasilitasi Hak Warga Adat Paser

"Kalau saya mengambil keputusan di perusahaan itu lebih suka pakai data. Selain data, saya menggunakan intuisi. Pokoknya harus melihat dulu. Berdasarkan pengalaman juga pastinya itu perlu untuk mengambil sebuah keputusan," tegas Andi.

Di ujung hari, kepuasan terbesar Andi bukanlah deretan angka pembukuan semata. Senyum konsumen yang menerima kunci rumah tepat waktu menjadi suntikan energi yang tak ternilai harganya.

"Saya sangat senang saat konsumen itu puas dengan hasil rumah mereka. Perumahan saya ini adalah karya, karya saya, karya manajemen, karya seluruh keluarga besar Rachmat Group Land," pungkasnya bangga. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Andi Kalaru Bisnis Kaltim Rachmat Group Land Perumahan Sepinggan Pratama Properti Balikpapan