KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Biaya pembangunan menjadi tantangan utama pengembang perumahan di Balikpapan sepanjang 2026. Kenaikan harga material konstruksi hingga biaya tenaga kerja membuat mereka harus berhitung lebih cermat agar ongkos produksi tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.
Direktur Utama Rachmat Group Land, Andi Kalaru mengatakan kondisi industri properti tahun ini cukup menantang. Selain biaya material yang meningkat, harga jasa kontraktor dan tenaga kerja juga ikut mengalami kenaikan.
“Jadi para pengembang tahun ini dihadapkan dengan kondisi yang cukup sulit. Harga material lumayan naik, saya dengar sampai 20 persen,” ungkap Andi, akhir pekan lalu.
Menurut dia, tekanan tersebut pada akhirnya membuat pengembang menghadapi pilihan yang tidak mudah. Di satu sisi, biaya pembangunan meningkat. Di sisi lain, daya beli masyarakat perlu tetap dijaga agar permintaan rumah tidak semakin melemah.
Baca Juga: APBD Kaltim Dipangkas Jadi Rp14,33 Triliun, Sekprov Sri Wahyuni Beberkan Efisiensi Ketat Pemprov
Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan pasar properti residensial Balikpapan. Bank Indonesia mencatat Indeks Harga Properti Residensial pada triwulan II 2026 sebesar 107,58 atau tumbuh 1,19 persen secara tahunan. BI menyebut kenaikan harga rumah baru antara lain dipengaruhi penyesuaian biaya bahan bangunan dan upah tenaga kerja.
Namun, pertumbuhan harga tersebut berlangsung terbatas. Pada periode yang sama, penjualan rumah baru yang dipantau dari 30 pengembang mencapai 75 unit, hanya meningkat tipis dibandingkan 72 unit pada triwulan sebelumnya. Secara tahunan, penjualan masih mengalami kontraksi 50,66 persen.
Andi menilai situasi tersebut membuat strategi pengembang tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan harga. Kreativitas dalam memasarkan produk dan kemampuan perusahaan menjaga efisiensi menjadi semakin penting. “Daya beli masyarakat juga kurang. Makanya menjadi tantangan buat kita, bagaimana caranya kita harus kreatif memasarkan produk,” ujarnya.
Baca Juga: Daya Beli Menurun, UMKM Balikpapan Tetap Didorong Naik Kelas dan Penuhi Standar SNI
Rachmat Group Land memilih mengambil strategi berbeda. Di tengah kenaikan biaya produksi, perusahaan berkomitmen tidak menaikkan harga rumah sepanjang 2026. Kebijakan itu diterapkan pada sejumlah proyek yang dikembangkan perusahaan. Untuk proyek Gading Pratama, harga rumah disebut mulai dari kisaran Rp 400 jutaan.
Sementara Permata Gading berada di kisaran mulai Rp 800 jutaan dan proyek lainnya mencapai sekitar Rp 1,7 miliar. "Strategi menahan harga tersebut menjadi upaya menjaga agar produk tetap dapat dijangkau pasar ketika konsumen semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan pembelian," kata Andi.
Data BI juga menunjukkan kecenderungan tersebut. Pada triwulan II 2026, penjualan rumah tipe kecil masih mendominasi dengan porsi 52 persen. Rumah tipe menengah menyumbang 27 persen, sedangkan tipe besar 21 persen. BI menilai konsumen cenderung lebih selektif dan memilih hunian yang sesuai dengan kemampuan anggaran.
Andi mengatakan tekanan biaya tidak hanya menjadi persoalan eksternal. Dari sisi internal, perusahaan juga harus mengelola arus kas, sumber daya manusia, hingga keputusan investasi secara hati-hati. “Bagaimana kita membangunkan SDM, cash flow, itu semua tergantung dari pimpinan perusahaan masing-masing. Tentunya agar tidak terpuruk dalam kondisi ekonomi ini,” tuturnya.
Karena itu, pembukaan proyek baru pun tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Menurut Andi, keputusan untuk membuka kawasan baru membutuhkan pertimbangan yang lebih matang, terutama ketika biaya pembangunan meningkat sementara kemampuan pasar harus tetap dijaga.
“Keputusan yang cukup perlu hati-hati diambil pastinya untuk memutuskan membuka proyek baru di tengah kondisi ekonomi seperti ini. Pengembang dituntut mencari ruang efisiensi tanpa mengorbankan kualitas maupun keberlanjutan proyek," tandasnya. kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar bisnis properti tetap bergerak ketika pasar tidak lagi berada dalam fase permintaan yang mudah. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo