KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Pengembangan batik Balikpapan tidak berhenti pada produksi kain dan motif. Pemerintah daerah juga mendorong perlindungan karya, peningkatan kompetensi pembatik hingga pengenalan batik lokal kepada generasi muda.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan Heruressandy Setya Kesuma mengatakan, hingga saat ini terdapat 33 sertifikat hak cipta motif batik Balikpapan yang telah diterbitkan Kementerian Perindustrian melalui Balai Besar Batik di Jogjakarta.
“Batik ini masuk ke ekonomi kreatif, juga bagian dari UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah, red) kerajinan yang di Balikpapan ada peminatnya, ada yang berbakat atau memiliki keinginan dan kemampuan untuk mengembangkan serta memberdayakan kerajinan,” ucap Heruressandy, baru-baru ini.
Menurut dia, kepemilikan hak cipta menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat posisi karya lokal. Di sisi lain, pengembangan batik tetap membutuhkan inovasi agar dapat mengikuti perubahan tren. Pemerintah juga menjalankan sejumlah program untuk meningkatkan kompetensi pelaku usaha, mulai dari pelatihan hingga sertifikasi.
Baca Juga: 85 Persen Manajer Kopdes Merah Putih Setuju Lokasi Penempatan, Ini Kata Kemenkop
Produk batik yang sudah dikenal masyarakat, seperti Batik Vi, Soho, Rumah Ampiek dan sejumlah pengrajin lainnya terus didorong untuk tampil dalam berbagai kegiatan promosi. “Yang lebih dulu atau sudah dikenal warga Balikpapan akan kita coba ajak terus dalam setiap event untuk mempromosikan branding batik tersebut,” katanya.
Tidak hanya memperluas pasar, pemerintah juga berupaya mengenalkan proses membatik kepada anak-anak. Langkah tersebut diharapkan dapat menumbuhkan pengetahuan sekaligus kebanggaan terhadap produk lokal sejak usia dini.
Tantangan terbesar justru terletak pada keberlanjutan. Heruressandy menyebut dari sekitar 30 wirausaha muda pembatik yang pernah dikenalkan dengan sektor tersebut, yang benar-benar serius menekuni usaha batik masih kurang dari 10 persen. “Ini tantangannya di situ,” ujarnya.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mengandalkan pembatik yang sudah ada. Regenerasi terus didorong melalui pelatihan dan pendampingan agar semakin banyak generasi muda masuk ke sektor tersebut. Promosi juga menjadi bagian dari strategi.
Baca Juga: Asyik Main Game Online dan Merokok saat Jam Belajar, 23 Pelajar Diangkut Satpol PP Kukar
Pemerintah mendorong penggunaan batik Balikpapan dalam lingkungan pemerintahan, termasuk oleh aparatur sipil negara pada hari Kamis maupun dalam berbagai kegiatan resmi.
Heruressandy mengatakan, pendekatan serupa juga diharapkan berkembang di sektor swasta. Namun, penggunaan produk lokal tidak dimaksudkan semata-mata sebagai kewajiban. Selain batik, pengembangan ekonomi kreatif juga mencakup wastra, kriya dan ukiran kayu.
Pemerintah membuka ruang kerja sama dengan dunia usaha, CSR dan berbagai stakeholder untuk mendukung pengembangan peralatan, promosi serta peningkatan kapasitas produksi.
"Dengan semakin luasnya ekosistem pendukung, produk kerajinan Balikpapan diharapkan tidak hanya dikenal sebagai produk pameran, tetapi berkembang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo