Bikin Dapur Tetap Ngebul, Warga Balikpapan Berburu Sembako Murah TPID dan Polisi

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 20:06 WIB
ANTUSIAS: Masyarakat Balikpapan berburu bahan makanan yang dijajakan dengan harga murah dalam GPM yang digelar TPID Balikpapan dan Polda Kaltim.
ANTUSIAS: Masyarakat Balikpapan berburu bahan makanan yang dijajakan dengan harga murah dalam GPM yang digelar TPID Balikpapan dan Polda Kaltim.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Upaya menjaga daya beli masyarakat di tengah pergerakan harga kebutuhan pokok kembali diperkuat lewat gelaran Gerakan Pangan Murah (GPM) di Balikpapan. Kali ini kegiatan diselenggarakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan bekerja sama dengan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Kaltim.

Berbagai komoditas pangan strategis dipasok langsung dengan harga yang jauh lebih ramah di kantong dibanding harga pasaran. "Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah, khususnya melalui intervensi terhadap akses masyarakat terhadap bahan pangan pokok," terang Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, Senin (28/9).

Komoditas yang disediakan panitia terbilang lengkap. Mulai beras, Minyakita, gas elpiji 3 kilogram, telur ayam, daging ayam, daging sapi, aneka cabai, sayur-mayur, hingga paket sembako hemat.

Kelancaran pasokan tersebut terwujud berkat sokongan Perum Bulog Kanwil Kaltim dan Kaltara, PT Pertamina Patra Niaga, serta kelompok tani binaan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Balikpapan.

Baca Juga: Puluhan Motif Batik Sudah Bersertifikat, Regenerasi Masih Jadi Tantangan

Robi Ariadi menjelaskan, kolaborasi lintas sektor ini merupakan wujud nyata menjaga stabilitas pasar. Tujuannya memastikan dapur masyarakat tetap ngebul tanpa terbebani lonjakan harga.

"Sinergi tersebut menjadi bagian penting mendukung implementasi strategi pengendalian inflasi melalui kerangka 4K, yaitu keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif," kata Robi.

Menurutnya, operasi pasar tidak bisa hanya menitikberatkan pada pemotongan harga semata. Kelancaran rantai pasok dari produsen ke konsumen harus dikawal ketat agar tidak ada hambatan distribusi di lapangan.

"Karena itu, TPID Balikpapan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, distributor, kelompok tani, serta sejumlah mitra strategis lainnya," tegas Robi.

Baca Juga: Bantuan Bedah Rumah Kaltim Dipatok Rp 25 Juta, Cek Alur Pengusulannya

Langkah taktis ini sangat mendesak mengingat bahan pangan seperti cabai, telur, dan daging rentan mengalami fluktuasi harga. Kerentanan tersebut dipicu oleh dinamika musim panen, cuaca, serta lonjakan permintaan warga.

Intervensi pasar melalui GPM sekaligus berfungsi mengendalikan ekspektasi inflasi di kalangan warga. Rasa aman akan ketersediaan stok pangan mampu meredam kepanikan belanja yang kerap memicu kelangkaan barang.

Bank Indonesia Balikpapan memastikan program semacam ini bakal terus digulirkan secara berkesinambungan. Penentuannya disesuaikan dengan fluktuasi harga komoditas dan kebutuhan riil warga di lapangan.

Program terukur ini juga menjadi fondasi untuk mencapai target inflasi nasional pada 2026 mendatang sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. "Melalui penguatan kolaborasi antarlembaga, upaya pengendalian inflasi diharapkan semakin responsif dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan yang lebih inklusif dan berkelanjutan," ujar Robi.

Keterlibatan para petani lokal binaan dinas terkait juga menjadi suntikan moral bagi sektor agribisnis setempat. Hal ini memperpendek rantai pasok sehingga hasil tani lokal bisa terserap optimal dengan harga adil bagi pembeli maupun petani. "Dengan demikian, Gerakan Pangan Murah tidak hanya menjadi kanal penjualan pangan dengan harga terjangkau," sebut Robi. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
harga sembako Balikpapan TPID Balikpapan polda kaltim gerakan pangan murah Bank Indonesia Balikpapan