Peluang Miliki Hunian Murah, 150 Rumah Subsidi Segera Hadir di Balikpapan

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 20:18 WIB
TERBUKA: Pengembang Balikpapan mulai melihat peluang untuk masuk ke pasar rumah subsidi.
TERBUKA: Pengembang Balikpapan mulai melihat peluang untuk masuk ke pasar rumah subsidi.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Bisnis properti Balikpapan tidak hanya bergerak di segmen rumah komersial. Di tengah kebutuhan hunian masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), pengembang mulai melihat peluang untuk masuk ke pasar rumah subsidi.

Rachmat Group Land menjadi salah satu perusahaan yang menyiapkan langkah ke segmen tersebut. Pengembang yang selama ini dikenal melalui sejumlah kawasan hunian komersial di Balikpapan itu telah menyiapkan lahan sekitar dua hektare untuk pembangunan rumah subsidi.

Direktur Utama Rachmat Group Land Andi Kalaru mengatakan lahan tersebut diproyeksikan menampung sekitar 150 unit rumah. Rencana itu menjadi bagian dari ekspansi perusahaan sekaligus upaya menjangkau konsumen yang memiliki kemampuan membeli rumah dengan harga lebih terbatas.

“Kalau yang subsidi, kita sudah ada lahannya. Kurang lebih dua hektare, rencananya sekitar 150 unit,” sebut Andi.

Baca Juga: Balikpapan Utara Jadi Incaran Pengembang Properti, Ini Sederet Alasannya

Masuknya perusahaan ke segmen subsidi menjadi langkah yang berbeda dibandingkan portofolio Rachmat Group Land selama ini. Perusahaan mengembangkan sejumlah proyek seperti Sepinggan Pratama, Permata Gading, dan Gading Pratama dengan segmen pasar yang lebih beragam.

Keputusan tersebut juga datang ketika kebutuhan rumah terjangkau masih menjadi persoalan besar. Pemerintah pada 2026 menargetkan penyaluran FLPP sebanyak 350 ribu unit. Namun hingga September, realisasinya baru sekitar 154 ribu unit sehingga pemerintah masih mendorong percepatan penyaluran hingga akhir tahun.

Di tingkat nasional, data BP Tapera hingga 31 Juli 2026 mencatat KPR subsidi melalui FLPP telah tersalurkan kepada 121.363 unit. Selain itu, terdapat 40.647 permohonan yang sudah masuk proses hingga akad.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar rumah subsidi masih memiliki ruang yang besar, tetapi penyediaannya juga menghadapi sejumlah tantangan. Pemerintah bahkan menyoroti kesiapan lahan dan persoalan sertifikasi sebagai salah satu hambatan yang dapat memperlambat pembangunan rumah subsidi.

Baca Juga: Tren Properti Balikpapan Berubah: Pembeli Rumah Tak Lagi Sekadar Tergiur Momentum IKN

"Bagi pengembang, segmen subsidi memiliki karakter pasar yang berbeda. Dan kemampuan konsumen memenuhi persyaratan pembiayaan juga menentukan apakah unit dapat terserap," tuturnya.

Rencana pembangunan rumah subsidi tersebut juga memperlihatkan bahwa perusahaan mulai memperluas segmentasi pasar. Sebelumnya, Rachmat Group Land lebih banyak mengembangkan rumah komersial dengan rentang harga yang berbeda sesuai lokasi dan proyek.

Di tengah kenaikan biaya pembangunan, langkah masuk ke segmen subsidi tentu membutuhkan perhitungan tersendiri. Andi menyebut harga material bangunan dapat meningkat hingga sekitar 20 persen, sementara biaya kontraktor dan tenaga kerja juga mengalami kenaikan. Pada saat yang sama, daya beli masyarakat sedang menjadi tantangan bagi pengembang.

"Karena itu, pembangunan rumah subsidi tidak cukup hanya dengan menyediakan lahan. Pengembang harus mampu menekan biaya pembangunan tanpa mengabaikan kualitas rumah dan lingkungan," ucap Andi.

Andi sebelumnya juga menekankan pentingnya aspek legalitas dalam pengembangan perumahan. Menurut dia, konsumen perlu memastikan status legalitas pengembang, perizinan, kualitas bangunan, lingkungan, serta fasilitas yang dijanjikan sebelum membeli rumah.

Baca Juga: Status Manajer Kopdes Merah Putih Terungkap, Jadi Pegawai Kontrak 2 Tahun

Artinya, rumah terjangkau tidak berhenti pada persoalan harga. Lokasi dan akses terhadap aktivitas sehari-hari turut menentukan apakah sebuah kawasan benar-benar dapat menjadi hunian yang layak bagi masyarakat.

"Bagi Rachmat Group Land, lahan dua hektare dengan target sekitar 150 unit tersebut menjadi langkah awal memasuki segmen baru. Tantangan berikutnya adalah memastikan proyek dapat memenuhi kebutuhan MBR sekaligus tetap layak secara bisnis bagi pengembang," kata Andi.

Di tengah dorongan pemerintah mempercepat penyediaan rumah subsidi, keterlibatan lebih banyak pengembang menjadi salah satu faktor penting untuk memperbesar pasokan.

Namun, keberhasilan proyek pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah unit yang dibangun, melainkan dari kemampuan menghadirkan rumah yang terjangkau, legal, layak huni, dan memiliki lingkungan pendukung bagi penghuninya. "Kita sangat mendukung dan mendorong percepatan 3 juta rumah subsidi tersebut," tandasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Rachmat Group Land Rumah Subsidi Balikpapan rumah murah MBR flpp Properti Balikpapan