Mayoritas Berusia di Atas 40 Tahun, Balikpapan Genjot Regenerasi Pembatik Lokal

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 20:35 WIB
PRODUKSI: Regenerasi pembatik menjadi pekerjaan penting pemerintah balikpapan untuk memastikan keterampilan, pengetahuan produksi hingga pengalaman mengelola usaha tidak berhenti.
PRODUKSI: Regenerasi pembatik menjadi pekerjaan penting pemerintah balikpapan untuk memastikan keterampilan, pengetahuan produksi hingga pengalaman mengelola usaha tidak berhenti.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Keberlanjutan industri kerajinan tidak hanya bergantung pada kemampuan pelaku usaha menghasilkan produk berkualitas. Regenerasi menjadi pekerjaan penting untuk memastikan keterampilan, pengetahuan produksi hingga pengalaman mengelola usaha tidak berhenti pada satu generasi.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan Heruressandy Setya Kesuma mengatakan, pengrajin yang telah lebih dulu memiliki pengalaman perlu mengambil peran dalam menyiapkan generasi penerus.

Menurutnya, proses regenerasi dapat dilakukan melalui pola mentoring dan coaching. Dengan cara tersebut, calon wirausaha baru dapat belajar langsung dari pelaku usaha yang telah melewati berbagai proses dalam menjalankan bisnis.

“Pengrajin kebanyakan berusia diatas 40 tahunan, kita ingin menumbuhkan pengrajin-pengrajin baru. Agar ada inovasi, ide maupun trobosan-trobosan yang fresh. Namun, yang ada juga harus mau menjadi mentor, coaching untuk teman-teman atau perajin perintis ini,” ucap Heruressandy.

Baca Juga: Peluang Miliki Hunian Murah, 150 Rumah Subsidi Segera Hadir di Balikpapan

Ia menilai transfer pengetahuan menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi kreatif. Pelaku usaha baru tidak perlu memulai seluruh proses pembelajaran dari dasar, karena dapat memperoleh pengetahuan praktis dari mereka yang telah berpengalaman.

Pengetahuan tersebut bukan hanya menyangkut teknik menghasilkan produk. Pengalaman mengenai pengelolaan usaha, pemasaran, membaca kebutuhan konsumen hingga menghadapi persoalan di lapangan juga perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

Upaya menjaga keberlanjutan tersebut salah satunya terlihat dari model usaha yang dikembangkan Yuni Rachmawati, pemilik Iwatik Balikpapan. Dalam menjalankan produksi batik, Yuni memilih melibatkan perajin lokal. Ia tidak ingin seluruh proses produksi bergantung pada perajin dari luar daerah.

Menurutnya, potensi keterampilan masyarakat sekitar dapat dikembangkan menjadi bagian dari rantai produksi sekaligus sumber pendapatan baru. Ia mengumpulkan ibu-ibu di sekitar lingkungan tempat tinggalnya untuk kemudian diberikan pembelajaran dan pembinaan. Setelah memiliki kemampuan, mereka mengerjakan produk batik yang hasilnya diserahkan kepada Iwatik untuk dipasarkan.

Baca Juga: Tren Properti Balikpapan Berubah: Pembeli Rumah Tak Lagi Sekadar Tergiur Momentum IKN

Dari produk yang terjual, para perajin mendapatkan bagian. Dengan demikian, kegiatan produksi tidak hanya menghasilkan barang, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi di tingkat lingkungan.

“Kita memperdayakan ibu-ibu di sekitar rumah. Kita kumpulkan, kita ajarin, kita bina. Nanti hasil batiknya diserahkan ke kita, kita jual, kemudian kita kasih bagiannya ke mereka,” ujarnya.

Model tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana proses regenerasi dan pemberdayaan dapat berjalan secara beriringan. Keterampilan tetap berada di tangan masyarakat lokal, sementara pelaku usaha mengambil peran dalam mengembangkan produk dan membuka akses pasar.

Pembagian peran itu menjadi salah satu cara Iwatik menjaga agar keterampilan lama tetap memiliki ruang di tengah perubahan pasar.

"Perajin senior tetap mengerjakan produk berdasarkan keterampilan yang mereka miliki. Sementara pengembangan desain, pemasaran dan strategi menjangkau konsumen disesuaikan dengan karakter pasar yang lebih muda," tuturnya.

Bagi Ernawaty Gafar, Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kaltim, keberlanjutan produk kerajinan tidak berarti mempertahankan bentuk lama secara utuh. Justru diperlukan inovasi agar produk tetap relevan.

Baca Juga: Balikpapan Utara Jadi Incaran Pengembang Properti, Ini Sederet Alasannya

Perubahan perilaku konsumen menjadi salah satu alasan pengrajin perlu mengembangkan produk ready to wear. Menurut Erna, konsumen saat ini lebih menyukai produk yang sudah siap digunakan dibandingkan membeli kain kemudian mencari penjahit sendiri.

Pengalaman mengikuti pameran memperlihatkan adanya persoalan yang kerap dihadapi konsumen ketika membeli kain. “Pasar saat ini lebih cenderung ke ready to wear,” katanya. Produk ready to wear dinilai memberikan pilihan yang lebih praktis. Konsumen dapat langsung melihat bentuk, desain dan warna sebelum membeli.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa produk lokal dapat memiliki pasar yang lebih luas apabila dikembangkan berdasarkan kebutuhan konsumen. Di sisi lain, ia melihat keberlanjutan industri kerajinan tetap membutuhkan kolaborasi antargenerasi.

Jika pengrajin berpengalaman mampu mentransfer keterampilan kepada pelaku usaha baru, sementara generasi muda membawa pendekatan baru dalam desain, pemasaran dan pemanfaatan tren, maka rantai ekonomi kreatif dapat terus berkembang.

Baca Juga: Status Manajer Kopdes Merah Putih Terungkap, Jadi Pegawai Kontrak 2 Tahun

Dengan pola tersebut, regenerasi bukan sekadar menggantikan pelaku usaha lama dengan pemain baru. Regenerasi menjadi proses mempertemukan pengalaman dan inovasi.

"Keterampilan perajin tetap terjaga, masyarakat sekitar memperoleh manfaat ekonomi, sementara produk lokal terus beradaptasi dengan kebutuhan pasar. Sehingga ekonomi kreatif tidak hanya menghasilkan barang bernilai jual, tetapi juga membangun ekosistem usaha yang dapat tumbuh lintas generasi," tuturnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Ekonomi Kreatif Balikpapan Batik Balikpapan UMKM Kaltim DKUMKMP Balikpapan Iwapi Kaltim