KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan membuat inflasi Kalimantan Timur (Kaltim) pada September 2026 mencapai 0,18 persen secara bulanan. Cabai rawit menjadi komoditas dengan sumbangan terbesar terhadap inflasi bulanan, di tengah kenaikan harga sejumlah sayuran dan bahan pangan lainnya.
Inflasi month to month (mtm) September 2026 yakni 0,18 persen. Kepala BPS Kaltim Mas’ud Rifai mengatakan, tekanan inflasi bulanan terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil 0,24 persen.
Komoditas cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dari kelompok tersebut dengan andil 0,13 persen. Berikutnya bayam, kangkung, dan tomat yang masing-masing memberikan andil 0,03 persen. “Kemudian jagung manis dan kacang panjang masing-masing 0,02 persen,” kata Mas’ud.
Baca Juga: Kapolri Komjen Suyudi Pasang Badan untuk Warga, Tindak Anggota yang Peras dan Rekayasa Perkara
Selain komoditas tersebut, kenaikan harga yang turut memberikan tekanan pada inflasi bulanan berasal dari buncis, semangka, ikan bandeng atau ikan bolu, ketimun, beras, sigaret kretek mesin (SKM), terong, jeruk, mie kering instan, ikan nila, dan pepaya. Masing-masing komoditas tersebut memberikan andil 0,01 persen.
Tekanan juga datang dari kelompok transportasi. Meski secara keseluruhan kelompok ini mengalami deflasi dan memberikan andil negatif 0,04 persen terhadap inflasi bulanan, terdapat sejumlah komoditas yang harganya meningkat. Solar memberikan andil inflasi 0,02 persen, sedangkan angkutan antarkota dan sepeda motor masing-masing 0,01 persen.
Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga menahan laju inflasi September. Kelompok tersebut memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen, terutama dipengaruhi penurunan harga bahan bakar rumah tangga sebesar 0,03 persen dan tarif air minum PAM 0,01 persen.
Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil deflasi 0,02 persen. Penurunan harga emas perhiasan menyumbang deflasi 0,02 persen, sedangkan sabun mandi cair 0,01 persen.
Baca Juga: Kaltim Kucurkan Dana Iklim Rp73,2 Miliar, Sasar 100 Desa dan Rehabilitasi Hutan Kritis
Mas’ud menambahkan, tekanan deflasi juga berasal dari komoditas perikanan dan transportasi udara. Ikan layang atau ikan benggol memberikan andil deflasi terbesar, yakni 0,09 persen. Disusul angkutan udara sebesar 0,08 persen, kemudian ikan tongkol atau ikan ambu-ambu dan daging ayam ras masing-masing 0,03 persen.
Dengan demikian, pergerakan harga pada September lebih banyak dipengaruhi dinamika komoditas pangan, khususnya cabai rawit dan sejumlah sayuran, sementara penurunan harga ikan, angkutan udara, serta beberapa komoditas rumah tangga menahan laju kenaikan harga. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo