KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Balikpapan memetakan beberapa persoalan utama yang menyebabkan lambatnya proses penyerapan tenaga kerja tersebut. Faktor pertama adalah kendala umum administratif atau kompetensi dasar yang tidak sesuai dengan kriteria yang diminta manajemen perusahaan.
Namun, kendala yang paling menyita perhatian justru menyangkut keengganan pelamar untuk mengambil pekerjaan operasional. Banyak pencari kerja yang sebenarnya memenuhi kualifikasi formal, namun enggan melamar formasi yang tersedia di lapangan.
"Kendalanya paling dominan kembali kepada faktor pencari kerjanya sendiri. Ada persoalan umum seperti tidak memenuhi persyaratan, namun yang perlu dievaluasi bersama adalah kualifikasi terpenuhi tetapi tidak ada kemauan atau kurang meminati lowongan tersebut, semisal posisi sales," tegas Adamin Siregar, Kepala Disnaker Balikpapan.
Baca Juga: Ribuan Lowongan Kerja di Balikpapan Sepi Peminat, Serapan Job Fair Baru Capai 100 Orang
Ia menambahkan, sebagian kandidat yang sempat menerima tawaran kerja justru tidak bertahan lama di posisi tersebut. Minimnya daya tahan kerja ini membuat angka putus kontrak di masa awal bekerja cukup sering terjadi pada formasi pemasaran.
Adamin mengingatkan bahwa dunia profesional menuntut proses adaptasi bertahap, terutama bagi tenaga kerja pemula yang baru lulus menempuh jenjang pendidikan. Para pencari kerja diimbau untuk tidak langsung mematok standar pendapatan dan kenyamanan fasilitas kerja yang terlampau tinggi di awal karier.
Menurutnya, fenomena pelamar yang terlalu lama menganggur sering kali dipicu oleh faktor dukungan finansial keluarga. Situasi nyaman di rumah membuat sebagian pemuda memilih menunggu pekerjaan ideal yang menawarkan gaji besar tanpa beban target.
"Perlu pengalaman kerja terlebih dahulu. Pengalaman itu sesuatu yang berharga dan tidak didapatkan di bangku pendidikan, sehingga harus terjun dulu ke dunia usaha tanpa langsung mematok ekspektasi tinggi di awal," pesan Adamin secara lugas.
Baca Juga: HUT Ke-11 Platinum Hotel Balikpapan, Pacu Pelayanan Prima, Perluas Segmen Korporasi
Bagi pekerja pemula, menerima upah setara Upah Minimum Kota (UMK) selama tahun pertama semestinya dijadikan sarana menempa keahlian. Pengalaman lapangan tersebut akan menjadi portofolio bernilai tinggi ketika mereka membidik jenjang karier yang lebih menjanjikan di masa mendatang.
Menyinggung iklim ketenagakerjaan secara umum di Balikpapan, Disnaker mencatat kondisinya masih relatif aman dan terkendali. Tidak terjadi lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang signifikan.
Struktur ekonomi Balikpapan yang bertumpu pada sektor jasa, perdagangan, dan perhotelan dinilai berbeda dengan kabupaten lain di Kalimantan Timur yang sangat bergantung pada fluktuasi komoditas tambang batu bara. Bahkan, sejumlah hotel berbintang baru tetap berani beroperasi di kota ini.
"Kalau dibandingkan data tahun lalu dengan sekarang hampir sama, tidak ada lonjakan PHK yang signifikan khusus di Balikpapan. Sektor perhotelan juga masih bertahan dan lowongan kerja sebetulnya masih sangat banyak tersedia bagi masyarakat," pungkas Adamin.
Pemerintah Balikpapan berharap angkatan kerja muda dapat lebih fleksibel memanfaatkan peluang kerja yang ada demi membangun jam terbang profesional. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo