Rupiah Tersungkur ke Level Rp 17.950 per Dolar AS pada Pembukaan Awal Pekan

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 09:35 WIB
SITUASI SULIT: Pelemahan IHSG yang diikuti nilai tukar rupiah terhadap dolar dinilai dapat memengaruhi kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya.
Rupiah melemah ke level Rp17.950 per dolar AS pada awal perdagangan Senin (5/10/2026) di tengah penguatan dolar AS.

KALTIMPOST.ID - Mengawali pekan di awal Oktober, nilai tukar rupiah kembali tersungkur di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda langsung tertekan cukup dalam begitu perdagangan resmi dibuka pada Senin (5/10/2026) pagi.

Merujuk catatan data pasar finansial Refinitiv, rupiah bertengger di posisi Rp 17.950 per dolar AS saat bel transaksi berbunyi. Angka tersebut mencerminkan koreksi sebesar 0,46 persen atau anjlok 82 poin bila disandingkan dengan posisi penutupan Jumat (2/10/2026) di level Rp 17.868 per dolar AS.

Kelesuan rupiah ini beriringan dengan keperkasaan indeks dolar AS (DXY) yang memantau otot greenback terhadap enam mata uang utama dunia. Pada pukul 09.00 WIB, indeks DXY terpantau merangkak naik 0,10 persen ke level 102,030.

Kedua indikator domestik tersebut dianggap sangat krusial oleh kalangan investor. Pasalnya, data itu akan menjadi rujukan utama untuk menakar ketahanan eksternal perbankan serta denyut belanja konsumen di tanah air.

Baca Juga: PPh 22 Marketplace Berlaku 1 Oktober, Pedagang Omzet Rp500 Juta Kena Pajak? Ini Kata DJP

Sementara itu, tekanan dari ranah internasional bersumber dari laporan ketenagakerjaan Negeri Paman Sam yang diumumkan akhir pekan kemarin. Penyerapan tenaga kerja di AS tercatat melambat drastis pada September 2026, di mana angka non-farm payrolls hanya bertambah 29.000 lapangan kerja baru.

Realisasi penambahan tenaga kerja itu merosot tajam dari proyeksi awal pasar yang memperkirakan penambahan hingga 90.000 pekerjaan. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran AS justru menanjak ke angka 4,2 persen dari level sebelumnya 4,1 persen.

Kekhawatiran pemodal kian bertambah seiring eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan strategis Selat Hormuz. Situasi panas tersebut membuat pergerakan harga minyak mentah rentan bergejolak dan berpotensi memicu lonjakan inflasi dunia.

Di sisa pekan ini, pandangan pelaku pasar tertuju pada publikasi data aktivitas sektor jasa AS serta risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Seluruh data tersebut diharapkan memberi petunjuk lebih terang mengenai arah suku bunga acuan bank sentral AS ke depan.***

Editor : Dwi Puspitarini
kurs rupiah pasar keuangan uang rupiah rupiah melemah dolar as