KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — PT PLN (Persero) terus berupaya maksimal menjaga keandalan dan keberlanjutan pasokan listrik di wilayah Kalimantan. Langkah ini diambil guna merespons dinamika operasional akibat gangguan teknis serta pekerjaan pemeliharaan pada sejumlah unit pembangkit.
Senior Manager Keuangan, Komunikasi, dan Umum PLN Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimra) Muchamad Meiryandi, menyampaikan hal tersebut saat mendampingi jurnalis di Balikpapan saat berkunjung ke PLTU Kaltim Teluk, Senin (5/10).
Dia menjelaskan, status operasional dua unit pembangkit di PLTU Kaltim Teluk berkapasitas 2x110 MW untuk Unit 2 yang sebelumnya mengalami gangguan teknis telah selesai ditangani dan kembali beroperasi. Sementara untuk Unit 1 saat ini tengah menjalani proses pemeliharaan skala besar (major maintenance) sebagai upaya PLN memastikan kesiapan dan performa secara optimal ke depan.
Guna menguji keandalan unit tersebut, PLN mengerahkan hingga 600 personel manpower yang didatangkan dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sumatra dan Jawa.
Baca Juga: Kuota Kerja Disabilitas di Balikpapan Belum Optimal, Disnaker Buka Kelas Vokasi Khusus
"Pekerjaan pemeliharaan pada Unit 1 ini merupakan bagian dari pemeliharaan terencana, bukan gangguan tiba-tiba. Kami mengerahkan ratusan tenaga ahli agar prosesnya bisa rampung lebih cepat dari jadwal, namun tetap mengedepankan presisi tinggi demi keandalan sistem," ujar Meiryandi.
Meiryandi mengatakan kembalinya Unit 2 beroperasi menjadi salah satu perkembangan positif dalam rangka memperkuat pasokan pada Sistem Interkoneksi Kalimantan.
Sementara pemeliharaan Unit 1 dilakukan sebagai bagian dari langkah penguatan pembangkit yang dilakukan secara menyeluruh. Pekerjaan mencakup pemeriksaan berbagai komponen, pekerjaan teknis, hingga pengujian sebelum unit kembali dioperasikan.
Baca Juga: Disnaker Balikpapan Dorong Dunia Usaha Penuhi Kuota Pekerja Disabilitas Satu Persen
PLN Nusantara Power selaku operator PLTU Kaltim Teluk terus mengoptimalkan pengerahan personel, tenaga ahli, peralatan, serta sumber daya pendukung untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan. Seluruh tahapan tetap dilaksanakan dengan mengedepankan standar teknis dan keselamatan kerja.
“Dengan mempertimbangkan tahapan teknis dan aspek keselamatan, pemeliharaan Unit 1 ditargetkan dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026. Target tersebut tetap mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan kondisi aktual yang ditemukan selama pekerjaan berlangsung,” jelas Meiryandi.
PLN TAMBAH PEMBANGKIT SEWA 278 MW
Selain mempercepat pemeliharaan unit yang ada, PLN juga mengambil langkah proaktif dengan memasok tambahan daya melalui skema pembangkit sewa dengan total kapasitas mencapai 278 MW untuk sistem interkoneksi Kalimantan.
Penambahan ini, kata Meiryandi dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama sebesar 158 MW, yang telah masuk dan beroperasi sebesar 20 MW melalui Pembangkit Trisakti dan 10 MW melalui Pembangkit Batulicin. Sisa kapasitas dari tahap pertama akan masuk secara bertahap pada Oktober dan November.
Sementara untuk tahap Kedua sebesar 120 MW direncanakan rampung dan masuk ke dalam sistem interkoneksi pada Desember 2026. Langkah percepatan dan penambahan daya ini juga dibarengi dengan rencana jangka panjang sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dari pemerintah untuk memastikan ketahanan energi nasional dan daerah di masa depan.
Sementara untuk menjawab kegelisahan masyarakat terkait pemadaman di beberapa wilayah, PLN menegaskan bahwa sistem kelistrikan di Kalimantan bersifat interkoneksi yang saling terhubung mulai dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara.
Baca Juga: BITE Hadirkan Sensasi Kuliner Italia di Rooftop Platinum, Cukup Rp 228 Ribu Bisa Makan Sepuasnya
Beban puncak sistem interkoneksi di empat provinsi tersebut mencapai 2.200 MW, dengan konsumsi terbesar berada di Subsistem Mahakam (Kaltim dan Kaltara) sebesar 1.100 MW, di mana pusat beban terkonsentrasi di Balikpapan, Samarinda, Bontang, Kaltara, dan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Karakteristik interkoneksi membuat seluruh pembangkit, baik milik PLN maupun pengembang swasta (Independent Power Producer/IPP), saling menopang. Apabila satu pembangkit mengalami gangguan permanen atau pemeliharaan besar, penyesuaian operasi berupa manajemen beban (pemadaman bergilir terencana) harus dilakukan secara terukur,” tegas Meiryandi.
Manajemen beban ini sebutnya, sangat krusial untuk mencegah terjadinya gangguan meluas (blackout) pada jaringan interkoneksi akibat ketidakseimbangan antara daya pasok dan konsumsi masyarakat, terutama pada jam beban puncak yaitu pukul 17.00 hingga 22.00 Wita serta pada perubahan cuaca.
Baca Juga: Kredit Kaltim Melaju, UMKM Tertinggal
MURNI KENDALA TEKNIS, PASOKAN BATU BARA AMAN
PLN memblokir tegas isu yang menyebutkan bahwa gangguan pasokan disebabkan oleh kelangkaan atau kendala pengiriman bahan bakar batu bara. "Pasokan batu bara untuk PLTU dalam kondisi sangat aman dan tidak ada isu terkait hal tersebut. Kondisi yang terjadi murni karena kendala teknis pada kemampuan mesin yang perlu dilakukan pemeliharaan dan perbaikan agar dapat kembali beroperasi optimal," tegas Meiryandi.
PLN mengimbau masyarakat untuk memahami bahwa rencana pemadaman yang diumumkan sewaktu-waktu dapat dibatalkan jika pada jam tersebut pasokan daya secara fleksibel mencukupi beban riil masyarakat.
Manajemen PLN menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan berkomitmen penuh menyelesaikan seluruh pemeliharaan agar sistem kelistrikan kembali normal. Pihaknya pun berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan kelistrikan yang andal dan berkelanjutan di Kalimantan. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo