KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Wastra kembali mendapat ruang untuk menunjukkan daya tariknya di panggung fesyen. Di antara puluhan pengrajin, Ida Syachruni turut tampil mewarnai gelaran Borneo International Fashion Festival (BIFF) 2026. BIFF 2026 digelar selama dua hari, 3–4 Oktober 2026 di Odah Etam Samarinda.
Para perancang tidak hanya datang dari sejumlah daerah di Kalimantan Timur, tetapi juga dari luar provinsi. Ida menjadi salah satu perancang yang tampil pada hari pertama sekaligus membuka rangkaian peragaan busana.
Kehadiran Ida dalam ajang tersebut menjadi bagian dari upaya memperlihatkan bahwa wastra lokal memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan menjadi busana modern.
Dalam koleksi yang dibawanya, Ida mengangkat tema “Kembang Perawan”. Tema itu diterjemahkan melalui eksplorasi flora dan fauna Kalimantan, seperti anggrek hitam serta kupu-kupu, yang kemudian dipadukan dengan kekayaan motif dan material khas daerah, sehingga menjadi cerita visual koleksi.
Baca Juga: Mengenal Koleksi Kembang Perawan di BIFF 2026, Wajah Baru Wastra Kaltim untuk Generasi Muda
Pemilihan unsur alam tersebut memperkuat karakter Kalimantan yang ingin disampaikan Ida. Alam tidak hanya hadir sebagai gambar atau ornamen, tetapi menjadi sumber inspirasi dalam membangun identitas busana.
“Ini lebih kepada flora dan fauna alam Kalimantan. Kita ingin mengangkat kekayaan yang ada di daerah kita melalui busana ready to wear,” ungkap Ida.
Setelah ditampilkan, koleksi tersebut mendapat respons positif dari penonton. Perpaduan motif dan warna disebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian.
“Alhamdulillah disambut baik. Mereka bilang perpaduan motif dan warna sangat menarik. Penonton juga banyak yang memberikan komentar positif,” kata Ida.
Baca Juga: Jalan Kukar-Kubar Rusak Parah, Gubernur Rudy Mas'ud Sentil Kemen PU di Balikpapan
Kekuatan koleksi berada pada pertemuan sejumlah unsur wastra. Batik dipadukan dengan ulap doyo dan motif tikar lampit. Ketiganya ditempatkan dalam satu kesatuan desain sehingga menghasilkan busana yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa cerita mengenai kekayaan budaya Kalimantan.
“Warisan budaya itu cerita yang abadi. Dari leluhur untuk anak cucu. Karena itu, bagaimana warisan tersebut tetap hidup dan bisa diteruskan menjadi sesuatu yang dekat dengan generasi sekarang,” ujarnya.
Ida melihat fesyen sebagai salah satu cara untuk menjaga agar warisan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Ketika motif, warna dan material tradisional diterjemahkan menjadi pakaian yang relevan, wastra memiliki peluang untuk masuk ke kehidupan generasi muda.
Hal tersebut sekaligus membuka ruang ekonomi baru. Industri fesyen tidak hanya berbicara mengenai pakaian, tetapi juga melibatkan perancang, pengrajin, penjahit, pemasok bahan, pelaku aksesori hingga pelaku usaha yang bergerak dalam pemasaran.
Karena itu, pengembangan wastra lokal dinilai memiliki nilai ekonomi yang lebih luas. Semakin dikenal sebuah motif atau material, semakin besar pula peluang masyarakat yang berada di belakang proses produksinya mendapatkan manfaat.
“Bukan hanya untuk memotivasi dan menumbuhkan pengusaha atau talenta baru. Di dalamnya juga ada upaya mempromosikan kekayaan alam Kalimantan supaya bisa dijaga, dicintai dan dihargai,” tutur Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) BPD Kaltim itu.
Baca Juga: Bahlil Rangkap Jabatan Menko dan Menteri ESDM, Koalisi PWYP Soroti Arah Hilirisasi Batu Bara
Keterlibatan sejumlah anggota APPMI BPD Kaltim dalam BIFF juga memperlihatkan geliat pelaku fesyen daerah. Sekitar lima anggota organisasi tersebut ikut berpartisipasi, bersama puluhan perancang lainnya dari berbagai wilayah.
Ajang tersebut menjadi kesempatan bagi desainer daerah untuk memperluas jejaring sekaligus memperkenalkan karakter masing-masing karya. Kehadiran perancang dari berbagai daerah membuat panggung fesyen tidak sekadar menjadi tempat memamerkan pakaian, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan dan promosi potensi daerah.
Bagi Ida, panggung BIFF menjadi momentum untuk membawa wastra Kaltim keluar dari kesan busana tradisional yang hanya digunakan dalam acara tertentu. Koleksi yang ditampilkan dirancang agar dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, termasuk oleh generasi muda.
Menurutnya, ketika warisan budaya berhasil diterjemahkan dalam bentuk yang sesuai dengan perkembangan zaman, keberlanjutannya akan lebih terjamin.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Berdampak ke Sekolah, Disdikbud Samarinda Terapkan PJJ Parsial
Sebab, menjaga wastra tidak cukup hanya dengan menyimpannya sebagai benda budaya. Wastra harus terus dipakai, dikembangkan dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Dari panggung BIFF 2026, Ida pun membawa pesan bahwa kekayaan budaya Kalimantan dapat berjalan beriringan dengan industri kreatif. "Tradisi harus tetap dipertahankan, sementara desain terus bergerak mengikuti zaman," tuturnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo