KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Harga emas kembali tertekan di pasar global. Logam mulia tersebut merosot ke level terendah dalam sekitar dua bulan setelah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil Treasury membuat emas kehilangan daya tarik.
Mengacu data Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (7/10/2026) ditutup di level US$4.110,55 per troy ons, turun 1,3 persen.
Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak 4 Agustus 2026. Tekanan masih berlanjut pada perdagangan Kamis (8/10) pagi. Pada pukul 06.19 WIB, harga emas tercatat berada di US$4.110,01 per troy ons, melemah tipis 0,03 persen.
Baca Juga: Antrean Haji Indonesia Tembus 14 Tahun, Ini Tahun Pendaftaran Jemaah yang Berangkat 2027
Salah satu pemicu tekanan berasal dari dolar AS. Indeks dolar atau DXY menguat 0,4 persen ke 102,42. Penguatan tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Di saat yang sama, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada pada level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Kondisi tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve atau The Fed.
Pasar saat ini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober. Namun, berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada Desember masih mencapai sekitar 85 persen.
Peter Grant, Vice President sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, menilai ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama masih menjadi faktor yang menopang dolar dan yield obligasi AS.
Baca Juga: TNI AD Kini Punya 27 Kodam, Ini Daftar Lengkap Pangdam Terbaru Setelah 6 Kodam Baru Diresmikan
Suku bunga yang tinggi menjadi tekanan bagi emas karena aset tersebut tidak menghasilkan bunga atau imbal hasil seperti instrumen berbasis obligasi.
Sinyal hawkish juga muncul dari sejumlah pejabat The Fed. Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeff Schmid menyebut kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Sementara Presiden Federal Reserve Bank of San Francisco Mary Daly mengatakan arah kebijakan moneter akan bergantung pada perkembangan tekanan inflasi.
Risalah pertemuan The Fed juga menunjukkan kemungkinan bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Bank Sentral China Masih Borong Emas
Di tengah tekanan dari dolar dan suku bunga AS, permintaan emas dari bank sentral masih menjadi penopang pasar.
Bank sentral China tercatat kembali membeli emas pada September. Dengan transaksi tersebut, aksi pembelian telah berlangsung selama 23 bulan berturut-turut berdasarkan data resmi.
Grant memperkirakan harga emas masih berpotensi mengalami tekanan sebelum kembali menguat.
Ia melihat level US$4.000 per troy ons berpeluang menjadi area pengujian berikutnya. Setelah itu, harga emas berpotensi kembali pulih menjelang akhir tahun dan bahkan menuju US$4.400 per troy ons.
Baca Juga: Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online, KSAD Maruli Janji Tindak Tegas
Harga Perak Ikut Tertekan
Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak juga mengalami penurunan tajam.
Pada perdagangan Rabu, harga perak ditutup di US$60,15 per troy ons, anjlok 2,5 persen. Harga tersebut sekaligus membawa perak ke level terendah dalam dua bulan.
Pelemahan berlanjut pada Kamis pagi. Hingga pukul 06.19 WIB, harga perak turun lagi 0,61 persen ke US$59,78 per troy ons. Dengan posisi tersebut, harga perak kembali berada di bawah level psikologis US$60 per troy ons.
Editor : Uways Alqadrie