KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Posisi Ilham Dika berubah drastis dalam setahun terakhir. Jika sebelumnya ia harus menawarkan Sambel Botol Kita dari satu warung ke warung lain, kini permintaan justru datang dari berbagai toko hingga reseller.
Perubahan itu terlihat dari jaringan penjualan yang kini mencapai sekitar 60 toko. Sebarannya mencakup Samarinda, Bontang dan Sangatta. Bahkan, Balikpapan menjadi pasar yang tengah dibidik. “Awalnya kan saya yang nawarin, ini mau enggak saya punya produk ini. Malah sekarang mereka yang nyari,” kata Ilham lalu terkekeh pelan.
Pertumbuhan tersebut terjadi bertahap sejak produk mulai dipasarkan. Setelah memasuki swalayan, penjualan meningkat hingga sekitar 1.000 botol dalam periode satu hingga dua pekan. Momentum akhir tahun turut mendongkrak permintaan karena aktivitas memanggang meningkat saat Natal dan tahun baru.
Baca Juga: Kisah Sukses Ilham Dika, Hadirkan Sambal yang Tak Hanya Enak tapi Tahan Lama
Memasuki Ramadan, pertumbuhan kembali melonjak. Dari sekitar 15 toko, jaringan penjualan bertambah menjadi 30 toko pada bulan berikutnya, kemudian berkembang lagi menjadi sekitar 60 toko.
Kenaikan permintaan membuat kapasitas produksi yang sebelumnya hanya sekitar 3.000-4.000 botol per bulan tidak lagi mencukupi. Saat ini permintaan sudah mencapai sekitar 6.000 botol per bulan, bahkan berpotensi menyentuh 10.000 botol.
Untuk mengejar kebutuhan tersebut, Ilham mulai beralih dari pengerjaan yang sepenuhnya ditangani sendiri. Distribusi kini diambil alih perusahaan yang bekerja sama dengannya, sehingga Ilham dapat memusatkan perhatian pada produksi.
Kerja sama itu berawal dari aktivitas pembinaan Bank Indonesia Kaltim. Ilham sebelumnya mengikuti program Digital Kaltimpreneurs dan Export Kaltimpreneurs. Dari jejaring tersebut, ia mendapat akses untuk bertemu pihak yang kemudian tertarik membantu pengembangan distribusi produknya.
Baca Juga: Menikmati Sensasi Eleven BBQ dan Sunset di Rooftop Platinum Balikpapan
Kini, setiap pesanan dalam jumlah besar dapat langsung dibayarkan sehingga perputaran modal menjadi lebih cepat. Berbeda dengan sejumlah toko yang selama ini menerapkan pembayaran setelah barang terjual. “Kalau sama vendor ini enggak, langsung di depannya. Saya antar barang langsung dari mereka dihitungnya cocok, langsung bayar,” katanya.
Perubahan pola distribusi juga membuat Ilham dapat mengejar peningkatan kapasitas produksi. Mesin tambahan untuk mendukung produksi telah disiapkan. Untuk ukuran 135 mililiter, kapasitas sekali produksi mencapai sekitar 1.000 botol. Sementara ukuran 250 mililiter dapat menghasilkan sekitar 500 botol sekali produksi.
Dalam satu kali proses produksi, sekitar 30 kilogram cabai digunakan bersama bahan lainnya. Total bahan yang diolah mencapai sekitar 150 kilogram. Produksi dilakukan mulai pagi hingga sore, dengan proses pendinginan terlebih dahulu sebelum produk dikemas pada hari berikutnya.
Saat ini produksi masih dibantu dua orang. Ilham juga menyiapkan mesin filling otomatis agar proses pengisian botol tidak lagi dilakukan satu per satu secara manual.
Di luar jaringan toko, penjualan daring melalui Shopee tetap dipertahankan Ilham secara mandiri. Pengiriman bahkan telah menjangkau berbagai daerah di luar Kalimantan, termasuk Sumatera dan Riau. Dengan permintaan yang terus meningkat, Ilham memilih belum menambah varian rasa.
Menurutnya, menjaga kestabilan produksi produk yang sudah ada menjadi prioritas sebelum mengembangkan produk baru. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo