Antrean Pertalite di Samarinda Mengular, Pengamat Soroti Daya Beli hingga Distribusi

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 07:33 WIB
Antrean kendaraan mengular di SPBU Jalan Slamet Riyadi, Samarinda, saat mengisi BBM jenis Pertalite, Senin (12/10). Pengamat ekonomi menilai peralihan konsumen dari Pertamax bukan satu-satunya faktor pemicu antrean. (AINUR/KALTIM POST)
Antrean kendaraan mengular di SPBU Jalan Slamet Riyadi, Samarinda, saat mengisi BBM jenis Pertalite, Senin (12/10). Pengamat ekonomi menilai peralihan konsumen dari Pertamax bukan satu-satunya faktor pemicu antrean. (AINUR/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Antrean panjang bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kalimantan Timur (Kaltim) dinilai tidak bisa semata-mata disebabkan oleh peralihan konsumen dari Pertamax ke Pertalite.

Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi Purwoharsodjo, menilai persoalan tersebut perlu ditelusuri lebih jauh. Sejumlah faktor perlu diperhatikan, mulai dari penurunan daya beli masyarakat, dugaan penyimpangan distribusi, hingga ketidakselarasan informasi yang disampaikan sejumlah pejabat mengenai kuota BBM.

Pandangan itu disampaikan Purwadi untuk merespons data Pertamina yang menyebut penyaluran Pertalite di Samarinda meningkat 9,6 persen setelah kenaikan harga Pertamax belum lama ini.

Baca Juga: Udara Balikpapan Memburuk, Pemkot Buka Opsi Sekolah Daring

Menurutnya, perpindahan konsumen ke BBM yang lebih murah memang dapat meningkatkan permintaan Pertalite. Namun, kondisi tersebut juga menjadi indikasi adanya tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.

“Menambah antrean panjang karena migrasi, orang pakai Pertamax bergeser ke Pertalite. Dari sisi ekonomi mengindikasikan daya beli orang turun, menggeser kualitas BBM-nya,” ujar Purwadi pada Senin (12/10).

Dia menjelaskan, ketika pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sebanding dengan kenaikan harga kebutuhan, konsumen cenderung menyesuaikan pengeluaran. Salah satu pilihan yang diambil adalah beralih ke jenis BBM dengan harga lebih terjangkau.

“Gaji enggak pernah naik, tapi harga BBM naik, berarti kan mencari alternatif yang lebih murah,” katanya.

Menurut Purwadi, peralihan konsumen tersebut dapat menambah tekanan terhadap permintaan Pertalite. Akan tetapi, fenomena itu belum cukup untuk menjelaskan mengapa antrean di SPBU terus terjadi.

Baca Juga: Sikap Ksatria Kak Mambo di Ujung Masa Jabatan Kwarda Kaltim

Karena itu, ia meminta pemerintah dan pihak terkait tidak berhenti pada penjelasan mengenai perubahan pola konsumsi masyarakat. Faktor lain, termasuk kelancaran distribusi dan kejelasan informasi mengenai kuota BBM, juga perlu ditelusuri untuk mengetahui penyebab antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU di Kaltim. (*)

Editor : Ery Supriyadi
BBM Kaltim antrean Pertalite Samarinda Purwadi Purwoharsodjo distribusi bbm daya beli masyarakat