KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Pasar saham Indonesia mengawali perdagangan Senin (19/10/2026) dengan tekanan tajam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot lebih dari 5 persen pada awal sesi, membawa indeks kembali ke level yang terakhir terlihat sekitar satu dekade lalu.
Mengacu pada data perdagangan pagi, IHSG dibuka di posisi 4.961,88. Pelemahan berlanjut dalam sepuluh menit pertama perdagangan, ketika indeks terkoreksi 263 poin atau setara 5,11 persen ke level 4.918.
Tekanan jual bahkan sempat membawa IHSG menyentuh titik terendah harian di 4.915,32. Sementara itu, posisi tertinggi indeks pada perdagangan pagi tercatat di level 4.974,66.
Baca Juga: Orang Utan Kebingungan di Bekas Karhutla Kalteng Dievakuasi BKSDA, Warga Kotawaringin Barat Geger
Level tersebut mengingatkan pada kondisi pasar saham pada April 2016. Saat itu, IHSG mulai bergerak di kisaran 4.900, sehingga pelemahan terbaru ini menghapus capaian indeks yang telah dibangun selama kurang lebih sepuluh tahun.
Dari sisi aktivitas transaksi, nilai perdagangan saham sejak pembukaan mencapai Rp4,81 triliun. Jumlah saham yang berpindah tangan tercatat sekitar 4,64 miliar lembar.
Tekanan terhadap IHSG terjadi setelah penyedia indeks global MSCI membuka wacana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi persepsi investor internasional terhadap pasar modal domestik.
Baca Juga: BEI Turunkan Batas ARB Saham Jadi 7 Persen Mulai 19 Oktober 2026, Ini Aturan Terbaru Bursa Efek Indo
Pergerakan IHSG selanjutnya akan menjadi perhatian investor, terutama dalam mencermati respons pasar terhadap perkembangan kebijakan MSCI serta dampaknya terhadap kepercayaan investor di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Editor : Uways Alqadrie