Upacara pembukaan resmi Olimpiade 2024 yang berlangsung di luar stadion, mengharuskan tim keamanan untuk lebih waspada. Pada pembukaan yang dilaksanakan tadi malam, Kamis 25 Juli, terdapat puluhan perahu yang membawa ribuan atlet juga penampil di parade apung yang menyusuri 6 kilometer Sungai Seine.
Demi mengamankan situasi, di sepanjang sungai telah dipasangi sistem anti-drone. Tim Komite Olimpiade Paris juga menurunkan 45.000 personel polisi, yang di antaranya merupakan pasukan intervensi khusus elite Prancis antiterorisme. Selain itu, penembak jitu juga dikerahkan di atas gedung-gedung yang berdiri di sepanjang rute.
Tony Estanguet, presiden panitia penyelenggara Olimpiade 2024, dalam konferensi pers pada Minggu (21/7) menyampaikan bahwa untuk menyelenggarakan perayaan yang fantastis seperti ini, perlu diiringi rencana keamanan yang sangat kuat.
Sementara itu, direktur artistik upacara pembukaan Thomas Jolly mengatakan, upacara yang akan dimulai pada Jumat (26/7) pukul 7.30 malam waktu setempat akan menjadi "lukisan dinding besar" yang merayakan Paris, Prancis, dan Olimpiade.
Acara itu akan menggabungkan parade tradisional yang dilakukan para atlet dengan pertunjukan artistik dan unsur-unsur protokol.
Dengan adanya perang di Gaza dan Ukraina, serta masalah keamanan di dalam negeri, Prancis sudah berada pada tingkat keamanan tertinggi.
Kerumunan yang akan memadati Paris akan sangat kontras dengan suasana Olimpiade Musim Panas terakhir di Tokyo pada 2021 yang berlangsung di arena kosong akibat pandemi waktu itu.
Pejabat Prancis mengatakan tidak ada ancaman terorisme khusus untuk upacara peluncuran Olimpiade di Paris, yang berlangsung hingga 11 Agustus.
Keamanan tingkat tinggi ini juga sebagai antisipasi terhadap beberapa kasus kriminal yang telah terjadi beberapa waktu lalu sebelum olimpiade dimulai. Dikabarkan bahwa, Sabtu (20/7), wanita asal Australia diserang dan diperkosa oleh lima pria.
Kemudian pada Rabu (24/7), dua jurnalis dari media Australia yang datang untuk meliput Olimpiade 2024 diserang dan dirampok saat berada di Paris.
Menanggapi kejadian itu, Dosen Senior Keselamatan Publik dan Risiko Bencana UNSW, Dr Milad Haghani memperingatkan bahwa turis adalah sasaran empuk.
"Turis yang tidak terbiasa dengan bahasa lokal dan daerah berisiko tinggi merupakan sasaran empuk. Mereka sering kesulitan untuk melaporkan kejahatan dan menavigasi sistem lokal setelah terjadi insiden, dan para penjahat menyadari hal ini dan memanfaatkannya," ujarnya.
Selain mengandalkan keamanan dari pihak tuan rumah, kewaspadaan individu juga berperan penting dalam keselamatan. Untuk itu, diimbau agar menghindari bepergian sendirian, menjaga barang-barang pribadi tetap aman, hingga tinggal di daerah yang sering dikunjungi.