KALTIMPOST.ID, Persebaya Surabaya memang pulang dari Lampung dengan satu poin. Namun bukan skor 1-1 itulah yang paling ramai dibicarakan setelah laga menghadapi Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Yang menggema justru sebuah surat—surat terbuka dari Bonek yang isinya mencerminkan puncak kelelahan dan kemarahan suporter.
Surat ini pertama kali dipublikasikan oleh fanbase @onlinepersebaya, dan langsung menyebar luas di kalangan pendukung Green Force. Banyak yang terkejut, bukan semata karena isinya keras, tetapi karena nada emosional yang terasa seperti akumulasi bertahun-tahun.
Suporter membuka surat dengan kalimat yang menohok. “Sadarkah Bapak bahwa segala rencana yang selama ini diagungkan untuk Persebaya justru tak pernah benar-benar berjalan sebagaimana mestinya?” tulis Bonek dalam surat tersebut.
Hasil seri 1-1 di Stadion PKOR Sumpah Pemuda hanya menjadi latar belakang dari ledakan rasa frustrasi.
Padahal secara permainan, Persebaya tampil agresif sejak babak kedua. Bruno Moreira hingga Mihailo Perovic menciptakan sederet peluang, tetapi semuanya berakhir sia-sia.
Gagalnya efektifitas kembali mengingatkan suporter pada masalah Persebaya bukan hanya soal pertandingan hari itu, tetapi pola yang terus berulang.
“Musim demi musim, kesalahan yang sama terus berulang, seakan tak pernah dipelajari apalagi diperbaiki,” tulis mereka.
Bonek juga menolak narasi bahwa masalah selalu datang dari luar. “Janganlah perhatian Bapak hanya tertuju pada kesalahan pihak luar,” kritik mereka.
Sebaliknya, mereka meminta sang presiden klub melihat ke lingkaran internal. “Cobalah sekali saja menoleh ke dalam, apakah orang-orang yang Bapak percayai sungguh menjalankan amanahnya dengan layak?”
Isu pergantian pelatih juga tak luput dari sorotan suporter. “Setiap musim pelatih menjadi kambing hitam, silih berganti tanpa ada fondasi kuat yang dibangun,” tulis Bonek.
Demikian pula dengan kemudahan klub melepas pemain kunci.
“Para pemain yang bersinar pun begitu mudahnya lepas, seakan mempertahankan kualitas adalah kemewahan yang tidak mampu dijangkau klub sebesar Persebaya.”
Bahkan persoalan pemain pelapis diungkit kembali. “Bahkan untuk mendatangkan pelapis Rivera saja sebuah kebutuhan yang sudah sangat jelas melemahkan Persebaya musim lalu manajemen tidak mau,” tulisnya.
Namun bagian yang paling banyak dibicarakan publik adalah ketika suporter mengembalikan kalimat Azrul Ananda kepadanya.
“Kami sudah tidak lagi kecewa. Kami sudah pada level menahan kemarahan,” tulis Bonek—mengutip ucapan yang pernah dilontarkan Azrul sendiri di masa lalu.
Meski keras, surat ini tidak ditutup dengan permusuhan. Di bagian akhir, ada nada cinta yang tetap melekat, membuat surat itu terasa lebih manusiawi daripada marah-marah semata.
“Persebaya tidak butuh janji lagi, yang dibutuhkan adalah perubahan yang nyata. Semangat Pak, masih banyak yang percaya,” tutup mereka. ***
Editor : Dwi Puspitarini