KALTIMPOST.ID, Persebaya Surabaya tak langsung mendapat jalan mulus saat kompetisi kembali bergulir.
Putaran kedua Super League 2025/2026 langsung mempertemukan Green Force dengan ujian tandang berat menghadapi PSIM Jogjakarta di Stadion Sultan Agung Bantul, Minggu, 25 Januari 2026 pukul 15.30 WIB.
Pertandingan ini bukan hanya soal tiga poin. Laga di Bantul menjadi tolok ukur awal apakah proyek Bernardo Tavares di Persebaya Surabaya mampu berjalan konsisten sejak awal paruh musim.
Atmosfer stadion dipastikan menekan. PSIM Jogjakarta dikenal tampil agresif dan berani saat bermain di hadapan pendukungnya sendiri.
Baca Juga: PSIM Kembali Utuh, Alarm Bahaya Persebaya Jelang Laga di Sultan Agung
Sorakan suporter tuan rumah akan menjadi tantangan tersendiri bagi skuad hijau yang datang dengan wajah baru.
Namun, Persebaya Surabaya tidak tiba tanpa persiapan. Selama jeda kompetisi, Bernardo Tavares memanfaatkan waktu untuk merombak struktur tim dan meningkatkan persaingan internal.
Latihan intensif digelar sejak awal Januari demi mempercepat adaptasi pemain lama dan rekrutan anyar.
“Jika ingin memiliki tim yang kuat, setiap posisi harus punya dua atau tiga pemain yang bersaing secara sehat,” ujar Bernardo Tavares.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Kamis, 22 Januari 2026: Raja Emas Indonesia Naik, Lakuemas Ikut Menguat
Menurut pelatih asal Portugal tersebut, kedalaman skuad menjadi kunci agar performa tim tetap stabil hingga akhir musim. Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan karakter pemain di lapangan.
“Kami butuh keseimbangan antara pemain cepat dan pemain yang kuat dalam duel udara,” lanjutnya.
Pendekatan itu diharapkan membentuk ruang ganti yang lebih kompetitif. Tavares menegaskan bahwa kekuatan tim tidak hanya dibangun saat pertandingan, tetapi juga dari atmosfer internal sehari-hari.
“Kami ingin ruang ganti semakin kuat dan tim menjadi lebih baik,” tegasnya.
Persebaya Surabaya juga membawa energi baru lewat kehadiran tiga pemain asing anyar: Bruno Paraíba, Jefferson Silva, dan Gustavo Fernandes.
Ketiganya berpeluang menjalani debut resmi pada laga tandang ini dan memberi dimensi berbeda dalam permainan tim.
Selama masa jeda, tim pelatih sengaja menggelar laga uji coba. Tujuannya sederhana: memberi ruang bagi pemain yang jarang tampil untuk menunjukkan kualitas mereka.
“Kami ingin melihat pemain yang belum banyak bermain,” kata Tavares. Ia menilai laga persahabatan penting untuk menjaga persaingan tetap hidup di dalam tim.
Baca Juga: PSIM Yogyakarta vs Persebaya Surabaya: Adu Strategi Dua Pelatih Jelang Putaran Kedua
Adaptasi pemain baru pun menjadi fokus utama. “Setelah itu kami harus bekerja keras karena ada pemain baru yang datang. Kami perlu lebih mengenal karakteristik semua pemain,” ujarnya.
Di balik semua persiapan itu, Bernardo Tavares memang membawa catatan positif dalam laga pembuka putaran kedua dari pengalaman sebelumnya.
Namun, kali ini konteksnya berbeda. Ia kini berdiri di pinggir lapangan sebagai nahkoda Persebaya Surabaya, dengan tekanan ekspektasi dan atmosfer tandang yang tak ramah.
Laga kontra PSIM Jogjakarta menjadi panggung awal untuk membuktikan bahwa fondasi yang dibangun selama jeda benar-benar siap diuji. Fokus, disiplin, dan komunikasi akan menjadi penentu apakah Persebaya Surabaya mampu pulang dengan hasil yang diharapkan.
Putaran kedua baru saja dimulai. Dan bagi Persebaya, perjalanan panjang itu langsung diawali dari Bantul, tempat yang akan menguji ketenangan, kedalaman skuad, dan racikan tangan dingin Bernardo Tavares.***
Editor : Dwi Puspitarini