KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Persija Jakarta mulai tercecer dalam persaingan papan atas musim ini. Tim berjuluk Macan Kemayoran itu tertinggal dari dua rivalnya, Persib Bandung dan Borneo FC Samarinda.
Situasi tersebut terjadi setelah Persija menelan kekalahan 2-3 dari Bhayangkara Lampung FC di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung, Minggu (5/4). Pada saat yang sama, Borneo FC menang 3-1 atas Madura United, sementara Persib menundukkan Semen Padang dengan skor 2-0.
Kekalahan ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Persija jelang laga berikutnya melawan Persebaya Surabaya di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 11 April.
Baca Juga: Jelang Persebaya vs Persija, Tavares Tunggu Kabar Cedera Ernando dan Gustavo
Salah satu sorotan utama adalah kartu merah yang kembali menghantui Persija. Dalam laga tersebut, Jordi Amat harus keluar lapangan lebih cepat. Ini menambah daftar panjang masalah disiplin tim.
Secara keseluruhan, Persija telah mengoleksi delapan kartu merah musim ini. Catatan itu menempatkan mereka sebagai salah satu tim dengan kartu merah terbanyak, di bawah Arema FC dan Persijap Jepara.
Pelatih Persija, Mauricio Souza, menyoroti kebiasaan timnya kehilangan pemain di tengah pertandingan. Menurutnya, kondisi tersebut sangat merugikan dan mengganggu jalannya strategi tim.
“Dalam beberapa pertandingan kami kehilangan satu pemain. Dengan kondisi seperti itu, jelas kami tidak diuntungkan. Saya ingin kami memulai dan mengakhiri pertandingan dengan 11 pemain,” ujarnya.
Souza menilai, permainan tim sebenarnya bisa berjalan sesuai rencana saat tampil dengan kekuatan penuh. Namun, kartu merah membuat Persija kesulitan mengembangkan permainan, terutama dalam membuka ruang dan menekan lawan.
Baca Juga: Yakob Sayuri Kembali Jadi Korban Rasisme di Super League, Laga Sempat Terhenti
“Kami punya strategi menyerang dan memanfaatkan ruang kosong. Tapi dengan 10 pemain, kami hanya bisa melakukannya sekitar 15 menit saja,” jelasnya.
Ia menambahkan, persoalan Persija tidak hanya terletak pada taktik, tetapi juga eksekusi di lapangan. Performa individu pemain dinilai masih perlu ditingkatkan agar strategi tim berjalan maksimal.
“Percuma punya taktik bagus kalau secara teknis tidak maksimal. Kami harus lebih baik secara individu. Kalau bermain dengan kurang pemain sampai akhir, taktik apa pun tidak akan maksimal,” tegasnya.
Dalam laga tersebut, Persija menurunkan Cyrus Margono sebagai penjaga gawang. Itu menjadi debutnya sejak bergabung pada putaran kedua kompetisi. Namun, debut tersebut berakhir kurang memuaskan setelah gawangnya kebobolan tiga gol.
Meski begitu, Souza belum ingin memberikan penilaian khusus terhadap penampilan Cyrus. Ia memilih untuk terlebih dahulu mengevaluasi jalannya pertandingan.
“Saya harus melihat kembali cuplikan gol-golnya. Semua pemain profesional pasti tahu apakah mereka tampil bagus atau tidak,” katanya.
Di sisi lain, Moussa Sidibe tampil gemilang dan menjadi penentu kemenangan Bhayangkara Lampung FC. Penampilan impresifnya membuat manajemen klub berencana mempermanenkan statusnya.
Baca Juga: Bus Borneo FC Dilempari usai Laga di Pamekasan, Panpel Madura United Buka Suara
COO Bhayangkara Lampung FC, Sumardji, menyebut pihaknya tengah mengurus proses perpanjangan kontrak Sidibe dengan klub asalnya, Johor Darul Ta’zim.
“Sidibe sudah kami urus ke JDT untuk diperpanjang. Insyaallah bisa dikontrak secara permanen,” ujarnya.
Pelatih Bhayangkara Lampung FC, Paul Munster, juga memuji performa pemain tersebut. Ia menilai Sidibe memiliki kualitas besar dan mampu tampil maksimal di laga penting.
“Saya sudah memperkirakan Sidibe akan bermain baik. Dia punya kualitas dan tampil luar biasa di laga besar ini,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi