KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Sepak bola usia muda di Indonesia kembali menjadi sorotan. Laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara U-20 dan Dewa United U-20, Minggu (19/4/2026), diwarnai insiden kekerasan yang memicu kecaman luas.
Peristiwa itu melibatkan pemain timnas muda, Fadly Alberto Hengga. Dalam video yang beredar di media sosial, ia terlihat melayangkan tendangan keras ke arah kepala pemain Dewa United hingga terjatuh di lapangan.
Kedua tim pun angkat bicara. Manajer Bhayangkara FC, Yongki, menegaskan pihaknya tidak membenarkan tindakan tersebut.
Baca Juga: 15 Poster Hari Bumi 2026 Terbaru, Lengkap dengan Caption Inspiratif untuk Edukasi Lingkungan
“Kami tidak membenarkan apa yang dilakukan pemain kami. Itu adalah tindakan yang tidak baik, apalagi di level usia muda,” ujarnya.
Kecaman lebih keras datang dari kubu Dewa United FC. Presiden klub, Ardian Satya Negara, memastikan akan membawa insiden ini ke ranah hukum.
“Saya akan proses secara hukum semua yang terlibat dalam kekerasan. Bukan hanya pemain, tetapi juga ada pelatih Bhayangkara U-20 yang melakukan pemukulan. Saya sangat kecewa,” tegasnya.
Sorotan juga datang dari Jacksen F. Tiago, yang terlibat dalam pembinaan EPA bersama Borneo FC. Ia mengaku prihatin dengan kejadian tersebut.
Menurutnya, insiden ini bukan sekadar masalah dua tim, melainkan cerminan sistem pembinaan sepak bola usia muda di Indonesia.
Baca Juga: Jalan Nasional Kubar Mulai Dicor Beton, Titik Parah Jengan Danum Jadi Prioritas
“Sepak bola itu untuk dinikmati. Menang dan kalah adalah bagian dari permainan, apalagi di level pembinaan seperti EPA,” ujarnya.
Jacksen menekankan bahwa pembinaan pemain tidak hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga karakter. Ia mengingatkan pentingnya nilai kemanusiaan, baik di dalam maupun luar lapangan.
“Piala bisa berkarat seiring waktu, tetapi karakter akan bertahan seumur hidup. Kita berharap sistem ke depan lebih baik dan mampu membentuk pemain menjadi pribadi yang lebih baik,” pungkasnya. (*)
Editor : Ery Supriyadi