KALTIMPOST.ID - Sebagai organisasi yang berdiri di bawah naungan FIFA, PSSI seharusnya patuh terhadap aturan yang dibuat oleh Federasi sepak bola tertinggi di dunia tersebut. Termasuk dalam hal aturan yang diterapkan dalam satu turnamen.
Saat ini Piala Presiden sedang mendapatkan atensi. Pasalnya, jeda istirahat yang diberikan penyelenggara hanya satu hari. Tentu hal tersebut menyalahi aturan FIFA yang mengharuskan pemain minimal beristirahat 72 jam setelah menjalani pertandingan.
Pelatih Persib Bandung, Igor Tolic, melontarkan kritik terhadap penyelenggara Piala Presiden 2026 terkait padatnya jadwal pertandingan yang dinilai tidak memberikan waktu pemulihan yang memadai bagi para pemain.
Menurut pelatih asal Kroasia itu, jeda dua hari antara semifinal dan partai final tidak sesuai dengan regulasi FIFA yang mengharuskan pemain mendapatkan waktu istirahat minimal 72 jam sebelum kembali bertanding.
Baca Juga: Kuat di Usia Dini, PB Terpadu Balikpapan Buka Suara Soal Tantangan Atlet Remaja
Persib dijadwalkan menghadapi Persebaya Surabaya pada laga final di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Kamis (6/8), setelah sebelumnya menyingkirkan Persija Jakarta dengan skor 2-1 di semifinal. Sementara Persebaya melaju ke final usai mengalahkan Arema FC 1-0.
"Dalam peraturan FIFA ada ketentuan minimal 72 jam istirahat antar pertandingan. Aturan ini bersifat wajib untuk melindungi kesehatan fisik dan mental para pemain," ujar Tolic.
Tolic menegaskan kritik yang disampaikannya bukan hanya untuk kepentingan Persib, melainkan seluruh tim peserta yang harus menjalani jadwal padat.
"Saya tidak hanya berbicara tentang pemain Persib. Saya juga berbicara tentang Persija, Persebaya, Arema, dan semua pemain yang tampil di turnamen ini. Mereka semua berhak mendapatkan perlindungan," katanya.
Baca Juga: Modus Scam Makin Canggih, Satgas PASTI Siapkan Aplikasi Anti-Penipuan Berbasis Teknologi
Ia mengingatkan, jadwal yang terlalu padat berpotensi meningkatkan risiko cedera hingga gangguan kesehatan serius bagi para pemain.
"Saya harus melindungi para pemain dan kesehatan mereka. Bayangkan jika dalam pertandingan berikutnya ada pemain yang mengalami serangan jantung atau kejadian serius lainnya. Siapa yang akan bertanggung jawab?" tegas Tolic.
Pernyataan tersebut kembali memunculkan sorotan terhadap penyelenggaraan turnamen pramusim di Indonesia. Di tengah tuntutan kompetisi yang semakin ketat, aspek keselamatan dan kesehatan pemain dinilai harus menjadi prioritas utama agar kualitas pertandingan tetap terjaga tanpa mengorbankan kondisi fisik para pesepak bola. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo