Ia mengaku selama dua tahun belakangan ikut mendengarkan aspirasi masyarakat setelah menemani suaminya yang berhasil terpilih menjadi DPD Bontang pada pileg Februari lalu.
Neni juga membantah tudingan yang mengatakan bahwa keluarganya ingin menguasai Bontang. Tudingan itu sebelumnya digaungkan oleh salah satu bapaslon saat deklarasi.
“Jadi tidak ada niatan untuk menguasai Bontang. Seperti yang tergaung bahwasanya habis suami-istri, kemudian nanti anaknya, menantunya, hingga cucu,” kata Neni.
Ia mengeklaim bahwa masyarakat menginginkan perubahan, terutama di aspek pendidikan dan kesejahteraan masyarakat.
Memahami akan kebutuhan tersebut, Neni pun bertekad untuk kembali ikut serta dalam kontestasi politik lima tahun sekali ini.
Dalam pernyataannya, Neni sempat menyinggung terkait ketua RT yang pernah mengikut bimbingan teknis di luar Bontang, namun justru memilih tetap mendukungnya.
“Ada yang datang ketua RT hatinya tetap mendukung Neni walau pernah bimtek di periode saat ini,” ucapnya.
Pernyataan tersebut diduga menyindir bapaslon yang saat ini maju melalui jalur perseorangan, Basri Rase. Ia pun justru mengaku mewakafkan dirinya untuk kemajuan Bontang ke depannya.
“Selama masih bisa maka saya akan membangun Bontang untuk lebih baik lagi,” pungkas perempuan pertama yang menjabat wali kota Bontang itu. (*)
Editor : Almasrifah