KALTIMPOST.ID, BONTANG - Dinas Kesehatan (Diskes) Bontang telah melakukan operasi timbang serentak beberapa waktu lalu. Hasilnya, 1.753 balita masuk kategori pendek.
Kepala Diskes Bontang Bachtiar Mabe mengatakan, dari angka tersebut nantinya akan dikonsultasikan dengan dokter spesialis anak.
Baca Juga: Dongkrak Pendapatan, PT LBB Sasar Pengelolaan Sektor Laut
Tujuannya untuk mengetahui, mana balita yang masuk kategori stunting berdasarkan ukuran tinggi badan. Termasuk balita yang pendek tetapi secara pemenuhan gizi cukup.
“Dokter spesialis anak yang akan memberikan rekomendasi nantinya. Karena stunting itu sudah pasti pedek. Tetapi pendek belum tentu stunting,” kata Mabe.
Menurutnya, dari rekomendasi itu nantinya akan dipakai untuk penyaluran bantuan berupa pemberian makanan tambahan (PMT) dan susu. Pemkot pun sudah menganggarkan untuk penyaluran PMT dan susu.
“Khusus PMT, anggarannya mencapai Rp 4 miliar sedangkan pembagian susu itu Rp 900 juta,” ucapnya.
Sebelumnya, Pemkot Bontang belum memiliki data yang valid terkait jumlah balita yang masuk kategori stunting. Hasil rekomendasi itu juga nantinya bisa dipakai untuk penyaluran dana CSR perusahaan untuk penanganan stunting. "Berapa yang dibantu oleh perusahaan A, B, dan C itu nanti kami akan pilah,” tutur dia.
Terkait PMT, setiap porsi akan dibanderol harga Rp 32 ribu. Nominal tersebut termasuk biaya pengantaran sejumlah Rp 2.240 dan administrasi Rp 1.600 untuk tiap porsinya. Sisanya ialah biaya untuk memasak PMT.
Baca Juga: Banjir Sasar Lima Kelurahan di Bontang, Dua Ribuan Warga Terdampak
Sebelumnya, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menegaskan, bantuan PMT ini akan disalurkan kepada anak yang masuk kategori stunting selama tiga bulan. Proses pemasakannya akan melibatkan pihak ketiga atau katering.
“Diharapkan dengan PMT ini dapat menekan angka stunting di Kota Bontang,” terangnya.
Sementara untuk penyaluran dosis susu akan menyesuaikan dengan rekomendasi dokter spesialis. Diskes akan memperhatikan takaran gizi balita supaya tidak menimbulkan permasalahan lain seperti masuk kategori obesitas. (*)
Editor : Ery Supriyadi