KALTIMPOST.ID, BONTANG - Capaian luar biasa ditunjukkan Kelurahan Gunung Elai dalam pelaksanaan Operasi Timbang Serentak Balita 2025 jilid kedua.
Dalam tiga hari pelaksanaan, partisipasi warga naik drastis hingga mencapai 98 persen dan akhirnya tembus 100 persen tanpa menerapkan sistem jemput bola.
Lurah Gunung Elai Sulistyo mengatakan capaian tinggi itu merupakan hasil kerja sama lintas unsur. Mulai dari kader Posyandu, ketua RT, PKK, hingga aparat keamanan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas.
“Kami tidak pakai sistem jemput bola. Semua pihak berperan aktif. Kader Posyandu dan ketua RT berkoordinasi langsung dengan warga yang belum membawa balitanya ke Posyandu,” kata Sulistyo kepada Kaltim Post.
Menurutnya, sebelum operasi timbang dimulai, pihak kelurahan terlebih dahulu mengumpulkan seluruh kader Posyandu dan Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) untuk menyamakan komitmen.
Selain itu, pertemuan juga dihadiri oleh Ketua PKK, Forum RT, FKPM, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas guna memastikan sinergi di lapangan berjalan efektif.
“Kader Posyandu kami minta memantau data dari setiap RT. Kalau ada warga yang belum datang, kami minta RT-nya langsung menghubungi atau mendatangi orang tuanya agar membawa balita ke Posyandu,” ucapnya.
Gunung Elai memiliki 12 wilayah Posyandu, dan capaian paling cepat diraih oleh Posyandu Mawar, disusul Bugenvil dan Menur. Ketiganya berhasil menuntaskan penimbangan balita 100 persen lebih awal dari jadwal. “Mawar itu paling cepat. Dalam tiga hari langsung 100 persen,” kata Sulistyo bangga.
Ia menjelaskan pada kegiatan Posyandu rutin bulanan, capaian kehadiran balita biasanya berkisar 80 persen. Namun, pada pelaksanaan operasi timbang serentak kali ini, tingkat partisipasi warga melonjak signifikan hingga mencapai 100 persen.
“Kalau biasanya 80 persen, kali ini bisa 100 persen. Artinya koordinasi lintas lembaga dan kesadaran masyarakat semakin baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, peningkatan ini bukan karena momentum akhir pekan, melainkan karena adanya edukasi dan komunikasi intensif kepada warga tentang pentingnya memantau tumbuh kembang anak.
“Kuncinya bukan waktu pelaksanaan, tapi kesadaran dan koordinasi. Semua pihak bergerak bersama,” tegas Sulistyo.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada akses, melainkan pada kesadaran orang tua. Karena itu, pihak kelurahan bersama kader terus melakukan sosialisasi mengenai pentingnya menimbang balita secara rutin.
“Masih banyak orang tua yang belum paham manfaat menimbang anak. Maka kami terus edukasi agar mereka tahu pentingnya memantau tumbuh kembang anak,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo