BONTANG - Upaya antisipasi banjir dilakukan Kelurahan Gunung Elai bersama warga dan sejumlah instansi. Selama dua hari, 15–16 November 2025, mereka bergotong-royong menambal tanggul yang retak dan berlubang di kawasan bantaran sungai Gunung Elai. Kegiatan ini dipimpin langsung Lurah Gunung Elai, Sulistyo.
“Kegiatan mulai jam 7.30 sampai jam 10.00 Wita. Dua hari. Sudah selesai,” ujar Sulistyo.
Ia menjelaskan, kerusakan tanggul sudah terjadi lama. Namun baru diketahui setelah banjir yang menyasar Gunung Elai beberapa waktu lalu. “Lebih dari satu tahun. Retak dan bergeser,” katanya.
Lubang terbesar memiliki diameter hampir satu meter. Celah ini menjadi tempat air menuju permukiman warga. Utamanya ketika debit air dari wilayah hulu tinggi. “Dari atas 50 cm. Di bawahnya lebih besar. Bentuknya segitiga,” jelasnya.
Kegiatan tanggap darurat ini melibatkan banyak pihak. Mulai dari Batalyon Arhanud 007/ABC, Polres Bontang, BPBD, Dinas PUPRK, pondok pesantren Taman Firdaus, SDN 010, hingga forum RT dan LKK. “Warga juga terlibat semua. RT 14, 15, 16, 17, 20, 44, 45. Banyak. Pesertanya hampir 300 orang,” tutur dia.
Material penambalan berasal dari warga melalui sistem swadaya. Kemudian diakomodasi oleh kelurahan. Anak-anak SD pun ikut berpartisipasi dengan membawa satu karung per orang.
“Satu anak bawa satu karung, ukuran 25 atau 50. Karung apa saja. Total terkumpul ribuan,” katanya.
Bahan-bahan itu dimasukkan ke celah-celah tanggul untuk menahan rembesan air. Langkah ini bersifat sementara, namun dinilai cukup efektif menahan debit air saat intensitas hujan tinggi.
“Ini untuk antisipasi. Kalau air dari hulu besar, tidak langsung masuk ke permukiman,” terangnya.
Pemkot Bontang memastikan perbaikan permanen akan dilakukan. Perbaikan fisik ditargetkan mulai awal tahun 2026 melalui anggaran PUPRK. “Kami sudah lapor ke camat. Sudah koordinasi dengan PUPR. Sudah direspons. Tahun depan dikerjakan,” sebutnya.
Sementara PKK tingkat RT dan kelurahan menyiapkan konsumsi bagi warga yang terlibat kegiatan penambalan sementara turap. Dana swadaya warga sebagian digunakan untuk membeli bahan masakan.
"Jam 06.00 sudah mulai menyiapkan di dapur umum yakni kantor kelurahan," ungkapnya.
Editor : Muhammad Ridhuan