BONTANG - Pemkot Bontang tak ingin jalan sendiri dalam membangun masa depan generasi muda. Kolaborasi lintas sektor kembali ditegaskan sebagai kunci utama peningkatan kualitas pendidikan, saat Pemkot Bontang bersama Reboot dan Tanoto Foundation menggelar talk show bertajuk “Kolaborasi Daerah untuk Pendidikan Berkualitas”, di Ruang Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kota Bontang, Rabu (26/11).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis yang mempertemukan pemerintah, praktisi pendidikan, dan pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pembangunan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan, khususnya di Kota Bontang.
Sejumlah tokoh penting bidang pendidikan turut ambil bagian. Di antaranya Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris, Kepala Balai Guru Penggerak dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Kaltim Wiwik Setiawati, Kepala Disdikbud Bontang Abdu Safa Muha, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Retno Febriaryanti, Ketua PGRI Bontang Safaruddin, fasilitator daerah (Fasda), agen perubahan pendidikan, hingga perwakilan guru dari berbagai sekolah.
Moderator yang juga perwakilan Tanoto Foundation, Roselina Ping Juan, dalam sambutannya menekankan bahwa transformasi pendidikan tidak boleh berhenti pada tataran konsep.
“Perubahan pendidikan harus nyata di sekolah dan ruang kelas. Para guru dan fasilitator daerah adalah penggerak utama inovasi, terutama dalam meningkatkan literasi dan numerasi siswa,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, Tanoto Foundation memaparkan berbagai dukungan melalui program Operation & Innovation Grant yang telah berjalan sejak 2023. Program ini melahirkan sejumlah inovasi berbasis tantangan nyata di lapangan, mulai dari penguatan kemampuan membaca, numerasi dasar, hingga pembentukan budaya belajar yang lebih aktif di sekolah.
Lima proyek inovatif dari para fasilitator daerah dipresentasikan. Di antaranya GLINUS dari Kutai Kartanegara, SIBINAR dan CERDIK dari Balikpapan, Litera5 yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pembelajaran menulis, serta KPFP Bontang yang berhasil meningkatkan kompetensi guru hingga 98 persen lewat pelatihan LKPD berbasis Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).
Sebagai bentuk apresiasi, Pemkot Bontang menyerahkan sertifikat kepada ketua program KPFP, CERDIK, dan Litera5. Momen ini sekaligus menjadi simbol dukungan penuh pemerintah terhadap peran fasilitator daerah dalam peningkatan mutu pendidikan.
Dalam sesi talk show, Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan setiap anak mendapatkan layanan pendidikan terbaik. “Pemerintah tidak hanya hadir sebagai pembuat kebijakan, tetapi juga mitra yang mendampingi sekolah dan guru. Pendidikan harus membentuk anak menjadi mandiri dan siap menghadapi tantangan masa depan,” kata Agus Haris.
Ia juga membeberkan sejumlah langkah strategis yang tengah disiapkan, seperti penguatan jam belajar malam, pengawasan anak melalui peran Satpol PP, hingga pemberian insentif bagi guru swasta dan honorer.
Sementara itu, Kepala BGTK Kaltim Wiwik Setiawati menyoroti pentingnya penguatan kapasitas guru melalui pelatihan berkelanjutan agar transformasi pendidikan berjalan seiring perkembangan zaman.
Bertepatan dengan momentum Hari Guru Nasional, kegiatan ini menjadi refleksi bersama akan peran guru sebagai fondasi kemajuan bangsa. Pemkot Bontang berharap, kolaborasi lintas sektor ini menjadi pijakan menuju sistem pendidikan yang lebih kokoh, sekaligus kontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (adv/ak/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan